Sumbawanews.com,- Ambisi Jerman membangun kekuatan militer besar-besaran untuk menghadapi ancaman Rusia terhambat oleh krisis rekrutmen yang memprihatinkan. Meski menargetkan peningkatan personel Bundeswehr menjadi 460 ribu orang pada 2035, program pendaftaran militer baru yang diluncurkan awal tahun ini hanya menarik 530 relawan dalam lima bulan pertama.
Data dari Kementerian Pertahanan Jerman, yang dikutip surat kabar Die Zeit, menunjukkan bahwa dari 298.200 warga berusia 18 tahun yang dihubungi melalui kuesioner daring, hampir seluruhnya laki-laki—sekitar 153 ribu orang—diminta mengisi formulir. Sebanyak 96 persen dari mereka memenuhi kewajiban itu, namun hanya sebagian kecil yang benar-benar mendaftar sebagai tentara. Sementara itu, partisipasi perempuan sangat minim: hanya empat persen dari yang dihubungi bersedia merespons, karena pengisian kuesioner bersifat sukarela bagi kaum perempuan.
Meski demikian, ada tanda harapan: sekitar 20 persen responden muda menyatakan ketertarikan untuk bergabung dengan militer, meski mereka menginginkan waktu satu hingga dua tahun lagi sebelum benar-benar masuk dinas. Di luar program ini, rekrutmen konvensional justru menunjukkan peningkatan signifikan—38.500 lamaran masuk sepanjang tahun ini, naik 24 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Kegagalan program baru ini membangkitkan kembali wacana pemberlakuan wajib militer di Jerman, yang sejak 2011 telah dihentikan. Ketua Komite Pertahanan Parlemen, Thomas Rowekamp, mengatakan pemerintah masih memiliki waktu sekitar satu tahun untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan saat ini sebelum mempertimbangkan langkah lebih radikal.
Target 460 ribu personel—yang terdiri dari 260 ribu prajurit aktif dan 200 ribu cadangan—dibuat sebagai respons terhadap perang Rusia-Ukraina dan meningkatnya ketegangan keamanan di Eropa Timur. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukanlah ancaman militer dari timur, melainkan ketidakmauan generasi muda Jerman untuk mengenakan seragam.
Dengan Bundeswehr saat ini baru berkekuatan sekitar 184 ribu personel, perjalanan menuju target 2035 tampak semakin sulit. Jerman tak hanya harus menghadapi Rusia di garis depan—tetapi juga melawan apatisme di rumah sendiri.















