Home Berita Nasional Prabowo Sebut Empat Kali Belum Dapat Mandat, Istana: Ini Soal Komitmen pada...

Prabowo Sebut Empat Kali Belum Dapat Mandat, Istana: Ini Soal Komitmen pada Demokrasi

Sumbawanews.com,- Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang empat kali “belum memperoleh mandat” dari rakyat dalam pemilihan presiden bukanlah pengakuan kekalahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap proses demokrasi yang berlaku di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam konteks menegaskan konsistensinya dalam mengikuti mekanisme konstitusional, bukan sebagai sindiran terhadap pemerintahan saat ini.

Prasetyo menekankan, Presiden Prabowo sengaja memilih kata “belum diberikan mandat” alih-alih “kalah”, karena ia ingin menyoroti bahwa setiap pemilu adalah konsensus nasional—bukan pertarungan pribadi. “Bukan kalah, belum diberikan mandat. Makanya waktu beliau menyampaikan, nggak ada yang tepuk tangan, nggak ada yang ketawa,” ujar Prasetyo, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, pernyataan Presiden itu justru menunjukkan kedewasaan politik. Sejak pensiun dari militer, Prabowo memilih jalan politik melalui partai, bukan lewat kekuatan institusional atau kekerasan. Ia bergabung dengan Partai Golkar pada 2004, lalu mendirikan Partai Gerindra pada 2008, dan terus berjuang melalui pemilu meski belum berhasil memenangkan pilpres hingga 2024.

“Beliau memahami bahwa konsensus kita adalah demokrasi. Jadi, meski belum memperoleh mandat, beliau tidak pernah mengganggu pemimpin yang terpilih. Itu prinsipnya,” tambah Prasetyo.

Pernyataan ini merespons berbagai spekulasi yang muncul setelah Prabowo menyebut dirinya empat kali “kalah” dalam pilpres, namun tak pernah mengganggu pemimpin yang berkuasa. Istana menegaskan, tidak ada niat menyindir siapa pun—hanya ingin mengingatkan bahwa kekuasaan tertinggi di Indonesia berasal dari suara rakyat, bukan dari posisi atau kekuatan militer.

Dengan demikian, narasi yang dibangun Presiden Prabowo bukanlah cerita kegagalan, melainkan perjalanan panjang seorang tokoh yang memilih taat pada aturan main demokrasi, bahkan ketika ia belum menjadi presiden. Dan kini, sebagai presiden, ia justru menjadi simbol bahwa proses pemilu—meski pahit—tetap harus dihormati, karena itulah fondasi negara ini.

Previous articleGalaxy S26 Hadir dengan AI yang Benar-Benar Menolong Sehari-hari
Next articleBelanda vs Maroko, Dumfries: Pertandingan Seperti Derby