Home Berita Internasional Trump Kecewa Media Fokus pada Zohran Mamdani, Padahal Ia Menang 16-0

Trump Kecewa Media Fokus pada Zohran Mamdani, Padahal Ia Menang 16-0

Sumbawanews.com,- Sorotan politik Amerika kini tertuju pada Zohran Mamdani, wali kota New York berusia 34 tahun yang berhasil membangun gelombang perubahan di jantung Partai Demokrat. Dalam pemilihan pendahuluan baru-baru ini, tiga kandidat yang didukungnya—Brad Lander, Claire Valdez, dan Darializa Avila Chevalier—secara spektakuler mengalahkan tokoh-tokoh berpengaruh partai, termasuk anggota Kongres berpengalaman. Kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan lokal; jika mereka menang di pemilu umum November mendatang, ketiganya akan duduk di Kongres AS, memperluas pengaruh Mamdani hingga ke ibu kota negara.

Namun, di tengah euforia pemberitaan media nasional yang memuji lahirnya “gelombang progresif” di New York, Presiden Donald Trump justru mengungkapkan kekesalan. “Saya menang 16-0 tadi malam, tapi media tidak mengatakan sepatah kata pun,” tulisnya di Truth Social. Trump merujuk pada kemenangan telak kandidat yang ia dukung di empat negara bagian—New York, Utah, Maryland, dan South Carolina—yang, menurutnya, diabaikan total oleh media arus utama.

Yang lebih menggugah, Trump tidak hanya mengeluh soal minimnya liputan. Ia menuduh Mamdani sebagai arsitek “tiga orang komunis” yang mendapat “tepuk tangan meriah dari Media Berita Palsu.” Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah ia menulis pesan bernada panik: “Amerika yang Indah TIDAK AKAN PERNAH menjadi Negara Komunis!!!”

Fenomena ini bukan sekadar persaingan politik biasa. Ia mencerminkan pergeseran mendalam dalam dinamika Partai Demokrat: generasi muda, berlatar belakang multikultural dan berorientasi pada keadilan sosial, mulai menggantikan elit lama yang selama ini mendominasi struktur partai. Mamdani, yang sebelumnya dikenal sebagai aktivis hak-hak imigran dan anggota dewan kota dengan gaya politik radikal, kini menjadi simbol perubahan itu—dan itulah yang membuat Trump merasa terancam.

Kemenangan Lander atas Dan Goldman, Valdez atas Antonio Reynoso, dan Avila Chevalier atas Adriano Espaillat—semua di distrik yang selama puluhan tahun menjadi benteng Demokrat—menunjukkan bahwa basis tradisional partai mulai retak. Dan yang paling menarik: semua kandidat ini mendapat dukungan terbuka dari Mamdani, yang sejak menjabat sebagai wali kota pada 2025 telah membangun jaringan politik yang menghubungkan gerakan lokal dengan ambisi nasional.

Trump, yang kembali menjadi calon presiden dari Partai Republik, tampaknya tidak hanya kecewa karena media tidak melaporkan kemenangannya. Ia khawatir: media justru memilih untuk membesarkan sosok yang mewakili ancaman ideologis terhadap basis politiknya. Dalam persaingan politik Amerika yang semakin terpolarisasi, kemenangan di tingkat lokal bukan lagi soal jabatan—tapi soal siapa yang mengendalikan narasi.

Dan sekarang, narasi itu berjalan searah dengan Zohran Mamdani.

Previous articleLatihan Militer Manajer Kopdes Tetap Berjalan Meski Tiga Peserta Meninggal
Next articleWakil Panglima TNI Tinjau Pembangunan Yonif TP 936/Satria Joyokusumo dan Situs Bersejarah di Jawa Tengah