Sumbawanews.com,- Dokumen dan sumber intelijen yang dihimpun oleh lembaga keamanan Barat mengungkap bahwa Iran telah membangun jaringan pasukan rahasia di wilayah Irak, dengan tujuan strategis untuk memperkuat tekanan terhadap negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pasukan ini, yang dikenal dalam lingkaran militer Iran sebagai “Unit Khusus Quds Irak,” terdiri dari ribuan militan yang dilatih secara intensif oleh Garda Revolusi Islam, dengan dukungan logistik dan senjata canggih yang disuplai langsung dari Teheran.
Pasukan ini tidak hanya beroperasi di perbatasan Irak-Suriah, tetapi juga telah menyebar ke wilayah-wilayah strategis di selatan Irak, dekat perbatasan dengan Kuwait dan Arab Saudi. Sumber intelijen mengatakan, kelompok ini dirancang untuk menjalankan operasi asimetris—termasuk serangan drone, sabotase infrastruktur energi, dan serangan gerilya—yang dapat memicu ketidakstabilan di kawasan tanpa melibatkan Iran secara langsung.
Laporan dari Kantor Intelijen Nasional AS dan mitranya di Eropa menunjukkan bahwa sejak awal 2023, jumlah pelatihan militer di kamp-kamp rahasia di provinsi Babil dan Muthanna meningkat hingga 300 persen. Sebagian besar peserta adalah anggota kelompok Shi’a Irak yang telah lama menjadi alat tekanan Iran, seperti Kataib Hezbollah dan Asa’ib Ahl al-Haq. Mereka kini dilengkapi dengan drone tempur Shahed-136, rudal balistik pendek, dan sistem komunikasi enkripsi mutakhir yang tidak bisa dilacak oleh alat pemantau Barat.
Pemerintah Irak, meski secara resmi menolak keterlibatannya, diketahui tidak mampu mengendalikan wilayah-wilayah yang dikuasai milisi pro-Iran. Pada bulan Juni lalu, otoritas Irak gagal menggagalkan serangan drone terhadap pangkalan udara di wilayah Basra, yang diduga ditujukan untuk menguji respons keamanan negara-negara Teluk.
Analisis keamanan regional menunjukkan bahwa langkah Iran ini merupakan bagian dari strategi “perang tanpa perang”—menggunakan proxy untuk mempertahankan pengaruh tanpa memicu konflik terbuka. Namun, para ahli memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa memicu respons militer balasan dari Arab Saudi, yang baru-baru ini meningkatkan kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sementara itu, Teheran tetap membantah semua tuduhan. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut laporan itu sebagai “propaganda musuh yang bertujuan menggoyang stabilitas Timur Tengah.” Namun, tidak ada bukti konkret yang diajukan untuk membantah keberadaan pasukan rahasia tersebut.
Dengan ketegangan yang terus memanas, kawasan Teluk kini berada di ambang risiko konflik baru—yang mungkin tidak dimulai dari peluncuran rudal, tetapi dari bayangan pasukan yang bergerak diam-diam di tanah Irak.















