Sumbawanews.com,- Jakarta – Utusan khusus Presiden Amerika Serikat, Robert Malley, tiba di Swiss pada Senin (14/8/2023) untuk memulai pembicaraan langsung dengan perwakilan Iran, dalam upaya terbaru membangkitkan kembali kesepakatan nuklir yang sempat runtuh. Kedatangan Malley disambut diam-diam di Jenewa, di mana perundingan dilangsungkan di balik pintu tertutup, jauh dari sorotan media.
Pertemuan ini menjadi langkah strategis setelah berbulan-bulan kebuntuan dalam dialog antara Washington dan Teheran. Meski pemerintahan Presiden Joe Biden yang awalnya memulai upaya revitalisasi JCPOA—Joint Comprehensive Plan of Action—pada 2021, keputusan untuk melanjutkan negosiasi kini diambil di bawah tekanan geopolitik yang semakin mendesak, termasuk meningkatnya aktivitas pengayaan uranium oleh Iran dan kekhawatiran global akan proliferasi senjata nuklir.
Malley, yang pernah menjadi arsitek utama negosiasi nuklir di masa pemerintahan Obama, kembali masuk ke panggung diplomasi internasional setelah ditunjuk ulang oleh pemerintahan Biden sebagai koordinator kebijakan Timur Tengah. Ia dikenal sebagai diplomat yang tahan banting, dengan rekam jejak panjang dalam menangani kompleksitas hubungan AS-Iran.
Pihak Iran, melalui tim negosiator yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menyatakan bahwa mereka siap mendengar “proposal baru” dari AS, tetapi menegaskan bahwa semua sanksi ekonomi yang diberlakukan sejak 2018 harus dicabut sepenuhnya sebelum pembicaraan lebih lanjut dapat dilanjutkan. Sementara itu, Washington menuntut komitmen konkret dari Teheran untuk membatasi program nuklirnya, termasuk penghentian pengayaan uranium hingga level 60 persen—jauh di atas batas 3,67 persen yang diizinkan dalam kesepakatan awal.
Kedua belah pihak sepakat bahwa pertemuan ini bukanlah putaran final, melainkan “langkah pertama dalam proses yang panjang.” Namun, keberadaan Malley di Jenewa menandai perubahan nada yang signifikan: setelah bertahun-tahun saling tuduh dan kebijakan “tekanan maksimal,” AS kembali memilih jalur diplomatik, meski tanpa janji pasti akan hasil.
Di luar ruang perundingan, sekutu Eropa—terutama Prancis, Jerman, dan Inggris—menyatakan dukungan penuh terhadap upaya ini, sambil menekankan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah bergantung pada keberhasilan atau kegagalan negosiasi ini. Sementara itu, Israel dan Arab Saudi, yang sebelumnya menentang kesepakatan nuklir, mengawasi perkembangan ini dengan waspada.
Pertemuan di Jenewa dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Hasilnya, menurut sumber diplomatik yang mengetahui prosesnya, akan menjadi indikator kuat apakah AS dan Iran masih memiliki ruang untuk kompromi—atau apakah hubungan mereka telah memasuki fase yang tak bisa diperbaiki lagi.















