Home Berita Internasional Israel Terus Serang Gaza, Korban Pascagencatan Capai 1.007 Jiwa

Israel Terus Serang Gaza, Korban Pascagencatan Capai 1.007 Jiwa

Sumbawanews.com,- Gaza — Meski gencatan senjata secara resmi masih berlaku, serangan udara Israel terus menerjang wilayah-wilayah padat penduduk di Jalur Gaza, menewaskan lebih dari seribu warga sipil sejak kesepakatan damai dideklarasikan pada 11 Oktober 2023. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, korban jiwa mencapai 1.007 orang, dengan 3.165 lainnya mengalami luka-luka—angka yang terus bertambah meski dunia menyerukan gencatan senjata permanen.

Pada Kamis (19/6/2026), serangan drone Israel menargetkan sebuah kendaraan sipil di pusat Kota Gaza, menewaskan tiga warga dan melukai empat lainnya. Salah satu korban adalah Jad Suleiman, bocah berusia delapan tahun yang baru saja pulang dari sekolah. Di Kamp Pengungsi Jabalia, sebuah serangan serupa menewaskan seorang kakek berusia 71 tahun, Al-Karim Mousa Abu Dan, yang sedang berjalan bersama keluarganya.

Tak berhenti di situ, serangan beruntun melanda kawasan Tel al-Hawa di barat daya Gaza, di mana sebuah apartemen hancur tersapu rudal, menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya. Di Khan Younis, wilayah selatan Gaza, dua warga tewas dan sejumlah warga lainnya terluka akibat serangan drone yang menargetkan jalur pergerakan sipil.

Korban-korban itu dievakuasi ke rumah sakit-rumah sakit yang sudah kelebihan kapasitas—Al-Shifa dan Al-Quds—dengan petugas medis berjuang tanpa pasokan listrik dan obat-obatan memadai. Sementara itu, ratusan jenazah masih terjebak di bawah puing-puing bangunan, tak bisa dievakuasi karena kondisi medan yang terlalu berbahaya dan terus menjadi sasaran serangan.

Kementerian Kesehatan Gaza menegaskan, 784 jenazah telah ditemukan sejak gencatan senjata berlaku, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Angka ini menjadi bagian dari total korban yang lebih dari 73.000 jiwa sejak konflik meletus pada 7 Oktober 2023—angka yang menjadikan Gaza sebagai salah satu krisis kemanusiaan paling mematikan dalam sejarah modern.

Meski sejumlah negara dan organisasi internasional mengecam serangan ini sebagai pelanggaran hukum humaniter, Israel tetap berkeras bahwa operasinya bertujuan untuk “menghancurkan sisa-sisa kapasitas militer Hamas.” Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa hampir seluruh korban adalah warga sipil—ibu, anak, lansia, dan guru—yang tak bersenjata dan tak berdaya.

Dalam situasi yang semakin memprihatinkan, tim medis dan relawan lokal terus bergerak di bawah tembakan, menyelamatkan nyawa di tengah keheningan yang dipaksakan—sebuah keheningan yang bukan damai, tapi jeda sebelum serangan berikutnya.

Previous articleRibuan Mahasiswa Trisakti Gelar Aksi di Tugu 12 Mei
Next articleIndonesia Terpilih Jadi Anggota Komite Warisan Budaya UNESCO
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.