Sumbawanews.com,- Relawan pendukung Presiden Joko Widodo menyampaikan sikap berbeda terkait kabar bahwa mantan presiden akan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Meski Ketua Bidang Politik DPP PSI, Bestari Barus, menyatakan Jokowi “dipastikan” akan menjadi Ketua Dewan Pembina PSI dalam waktu dekat, sejumlah kelompok relawan justru menyerukan agar tokoh yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode itu tetap berdiri di luar partai politik.
Andi Azwan, eks Wakil Ketua Jokowi Mania, mengaku siap mendukung keputusan apa pun yang diambil Jokowi—baik bergabung ke PSI maupun partai lain. “Kami ini *diehard*-nya Pak Jokowi. Apa pun yang diperintahkan beliau, kami siap,” ujarnya usai bertemu Jokowi di rumahnya, Kelurahan Sumber, Solo, Senin (15/6/2026). Namun, ia menekankan bahwa keputusan itu adalah hak konstitusional sang presiden. “Beliau seorang demokrat yang menghargai hak asasi manusia dan konstitusi. Tidak ada arahan harus ke partai tertentu.”
Sementara itu, Ketua Umum Brigade Rakyat Nusantara (BRN), Relly Reagen, justru berharap Jokowi tidak memilih jalur partai politik sama sekali. Menurutnya, posisi Jokowi sebagai tokoh nasional yang dihormati di berbagai kalangan justru akan lebih kuat jika ia tetap berada di luar struktur partai. “Kami sih pengen Bapak Jokowi berdiri di semua golongan,” katanya. Ia menambahkan, simpatisan Jokowi tersebar luas di berbagai partai—dari PDIP hingga Gerindra, dari kalangan santri hingga kaum urban—dan keberadaannya di luar partai memperkuat citra sebagai pemersatu.
Sinyal kehadiran Jokowi di PSI sebelumnya diungkapkan Bestari Barus, yang menyebut ada “kode keras” sejak kunjungan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep ke sejumlah daerah, termasuk Lampung dan Sumatera Selatan. Namun, respons dari basis pendukung Jokowi menunjukkan bahwa harapan publik terhadap peran Jokowi tidak lagi terpaku pada struktur kepartaian, melainkan pada kemampuannya menjadi simbol kebangsaan yang netral.
Dalam konteks politik pasca-pemilu 2024, di mana kekuatan partai terpecah dan koalisi terus berubah, posisi Jokowi sebagai tokoh tanpa afiliasi partai justru dianggap sebagai aset strategis. Bukan sekadar simbol, tapi penyeimbang yang mampu meredam polarisasi—sesuatu yang sulit dicapai jika ia memilih memimpin partai tertentu.
Hingga kini, Jokowi belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar ini. Namun, dari suara para relawan yang selama ini menjadi tulang punggung kepopulerannya, jelas terdengar pesan: biarkan Jokowi tetap menjadi Jokowi—bukan pemimpin PSI, bukan ketua partai, tapi Presiden yang tak pernah benar-benar pergi.

















