Sumbawanews.com,- Tangis haru memenuhi udara di sejumlah bandara tanah air saat kloter pertama jemaah haji tiba dari Makkah. Di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, ratusan jemaah asal Malang, Surabaya, dan Probolinggo langsung memanjatkan doa syukur usai menapakkan kaki di tanah air, Senin (1/6/2026). Beberapa di antaranya terjatuh peluk erat keluarga yang sudah lama menanti, sementara yang lain hanya bisa menangis diam, tangan gemetar memegang tas kecil berisi tanah suci.
Di Batam, petugas PPIH dengan penuh khidmat membantu jemaah lansia turun dari ambulans, sementara di Kualanamu, Sumatera Utara, 360 jemaah dari Medan dan Binjai menyambut kedatangan mereka dengan takbir yang menggema. Di Makassar, dini hari, ratusan jemaah dari Sulawesi Selatan berbaris pelan menuju asrama, mata berkaca-kaca, senyum tak terbendung. Di Jakarta, di Asrama Haji Pondok Gede, seorang jemaah perempuan berusia lanjut memeluk putrinya seolah tak ingin melepaskan, seakan waktu selama tujuh bulan perjalanan ibadah tak pernah berlalu.
Kedatangan kloter pertama ini menandai awal dari proses pemulangan lebih dari 200 ribu jemaah haji Indonesia yang telah menyelesaikan rukun Islam kelima di tanah suci. Mereka tiba secara bertahap melalui delapan debarkasi utama, dengan protokol kesehatan dan logistik yang telah disiapkan secara matang oleh Kementerian Agama bersama seluruh petugas di lapangan.
Meski lelah, wajah-wajah mereka berseri. Di antara kerumunan keluarga dan petugas, ada yang membawa oleh-oleh dari Makkah, ada yang masih mengenakan ihram, dan ada pula yang langsung memegang Al-Qur’an, seolah ingin segera membagikan keberkahan yang baru saja dirasakan.
Kedatangan mereka bukan sekadar peristiwa logistik, tapi momen spiritual yang menggetarkan. Di setiap pelukan, setiap air mata, tersimpan cerita perjuangan, doa, dan harapan yang telah ditempuh ribuan kilometer—dari tanah air, melewati padang pasir, hingga kembali ke pelukan keluarga, dengan hati yang lebih tenang, dan jiwa yang lebih bersih.

















