Sumbawanews.com,- Terminal Hijrah di Madinah berubah menjadi gerbang pengawasan ketat bagi jemaah haji Indonesia yang tiba dari Makkah—bukan sekadar titik transit, tapi benteng pertama pencegahan kesalahan penurunan dan pemondokan. Di sini, ribuan jemaah tetap duduk di dalam bus, sementara petugas bergerak keliling untuk memverifikasi data satu per satu.
Kepala Sektor Terminal Hijrah, Divia Ardianto, menjelaskan bahwa setiap bus yang tiba wajib melewati proses pemeriksaan menyeluruh sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan ke hotel masing-masing. “Kami cek jumlah bus, jumlah jemaah per bus, dan nomor kontrak pemondokan. Tujuannya sederhana: jangan sampai ada yang turun di hotel salah,” ujarnya kepada tim Media Center Haji, Minggu, 7 Juni 2026.
Proses ini dirancang untuk menghindari kekacauan yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya—ketika jemaah salah turun, hotel kelebihan tamu, atau justru kekurangan, sehingga mengganggu logistik dan kenyamanan. Dengan sistem verifikasi langsung di atas bus, waktu tempuh tetap efisien, dan jemaah tidak perlu turun dalam panas terik Madinah.
Petugas yang terlibat—35 orang yang dibagi dalam tiga tim operasional—berasal dari unsur Perlindungan Jemaah (Linjam). Mereka naik ke setiap bus, membandingkan manifest perjalanan dengan jumlah jemaah yang tercatat, serta memastikan dokumen perjalanan sesuai dengan sistem digital yang terintegrasi dengan sektor-sektor pemondokan. Notifikasi kedatangan bus langsung dikirim ke hotel tujuan, sehingga petugas di sana bisa mempersiapkan penyambutan, distribusi makanan, dan layanan kesehatan secara tepat waktu.
Meski tidak ada penurunan jemaah, Terminal Hijrah tetap siap menangani kebutuhan darurat. Toilet sementara disediakan bagi yang memerlukan, dan kursi roda siap dikerahkan jika ada jemaah lansia atau berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan kesehatan mendadak. Komplain dari jemaah selama perjalanan juga bisa langsung disampaikan ke Linjam, yang kemudian dilaporkan ke pimpinan untuk tindak lanjut.
Pada hari pertama operasional, Terminal Hijrah berhasil memverifikasi 141 bus yang membawa sekitar 10 hingga 12 kloter jemaah haji Indonesia. Angka ini menandai dimulainya fase perpindahan massal dari Makkah ke Madinah, yang menjadi titik krusial dalam ibadah haji.
Dengan strategi ini, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya pada keamanan, akurasi, dan kenyamanan jemaah—tanpa mengorbankan efisiensi. Di tengah hiruk-pikuk ibadah yang penuh tekanan, Terminal Hijrah menjadi bukti bahwa teknologi, koordinasi, dan disiplin bisa bekerja bersama demi satu tujuan: memastikan setiap jemaah sampai di tempat yang seharusnya.

















