Sumbawanews.com,- Di tengah arus konten digital yang tak terbendung, avatar buatan kecerdasan buatan kini semakin sulit dibedakan dari manusia asli. Di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, ribuan akun virtual—dengan wajah sempurna, gaya hidup mewah, dan suara yang mengalir natural—beredar tanpa label jelas, membanjiri feed pengguna dengan konten yang dirancang untuk menipu, menghasut, atau sekadar mengambil keuntungan dari kerentanan sosial.
Awalnya, influencer AI seperti Lil Miquela atau Shudu Gram mudah dikenali: visualnya terlalu sempurna, gerakannya kaku, dan keberadaannya sengaja dipromosikan sebagai karya seni digital. Tapi kini, generasi baru seperti Aitana Lopez dari Spanyol atau Emily Pellegrini yang dikelola oleh seorang kreator bernama Professor EP, tampil seperti teman kampus yang sering membagikan foto di restoran bergaya Paris atau di tengah keramaian Coachella. Mereka bukan lagi avatar eksentrik—mereka adalah versi digital dari influencer nyata yang sudah kita kenal, hanya saja tanpa tubuh fisik.
Teknologi yang dulu hanya tersedia bagi studio besar kini bisa diakses siapa saja dengan biaya murah. Alat dari Google, OpenAI, hingga perusahaan khusus seperti HeyGen dan ElevenLabs memungkinkan siapa pun membuat avatar yang bisa berbicara, tersenyum, bahkan menangis dengan ekspresi yang nyaris tak terbedakan dari manusia. Hasilnya? Ribuan akun virtual bermunculan tanpa jejak, tidak hanya menjual produk dropship atau mempromosikan gaya hidup mewah, tapi juga menyebarkan disinformasi politik, konten rasial, hingga konten seksual yang menggugah hasrat—semua tanpa perlu identitas nyata.
Platform besar seperti Meta, TikTok, dan YouTube memang punya kebijakan pelabelan konten AI, tapi aturan itu hanya berlaku untuk satu postingan, bukan akun secara keseluruhan. Artinya, seorang avatar bisa terus aktif selama tidak secara eksplisit menyatakan dirinya bukan manusia—dan banyak yang memang tidak melakukannya. Mereka tidak berpura-pura menjadi selebriti nyata, tidak menipu secara finansial, dan tidak melanggar aturan spam secara teknis. Mereka hanya… ada. Dan itu cukup.
Dengan pasar influencer virtual yang diprediksi mencapai lebih dari 60 miliar dolar AS pada 2030, industri ini kini punya agensi khusus, ajang penghargaan, bahkan kompetisi kecantikan khusus AI. Di belakang layar, ratusan kursus online menawarkan cara “membuat uang tanpa wajah”—dengan menjual avatar sebagai aset pasif. Tapi di balik kemewahan itu, ada kekosongan yang mengkhawatirkan: jika semua orang menjadi avatar, siapa yang masih menjadi manusia?
Kekhawatiran itu mulai menemukan resonansi. Di Eropa, Undang-Undang Kecerdasan Buatan mulai mewajibkan transparansi konten buatan AI, sementara kasus-kasus seperti Danny Bones, seorang rapper nasionalis kulit putih yang didanai partai sayap kanan Inggris, atau Jessica Foster, avatar pro-Trump yang mempromosikan estetika militer seksual, menunjukkan betapa berbahayanya AI yang tak terkendali bisa menjadi alat politik. Bahkan di Indonesia, kasus avatar AI kulit hitam yang digunakan untuk menjual produk murah dengan harga mahal melalui dropshipping telah menjadi sorotan.
Tapi platform tetap diam. Karena selama avatar itu menghasilkan klik, komentar, dan waktu tayang, mereka dianggap sebagai “engagement”—bukan ancaman. Pengguna dipaksa menjadi polisi mandiri: melaporkan, menghindari, dan berusaha membedakan yang nyata dari yang palsu. Tapi ketika kebohongan dirancang untuk tak terdeteksi, upaya itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami yang terus bertambah.
Ketika dunia maya semakin dipenuhi oleh wajah-wajah yang tidak pernah bernapas, mungkin yang paling berisiko bukanlah kepercayaan pada teknologi—tapi kepercayaan kita pada satu sama lain. Dan jika tidak ada yang mau menentukan batas antara yang nyata dan yang dibuat, maka yang akan hilang bukan hanya keaslian konten—tapi juga makna dari “sosial” itu sendiri.

















