Sumbawanews.com,- Jakarta – Dalam sebuah gelaran mewah di Penang Restaurant, Tokyo Hub PIK 2, Malaysia tak sekadar memperkenalkan hidangan khasnya—tapi mengajak masyarakat Indonesia merasakan jantung budayanya, lewat satu sendok nasi lemak, seiris roti canai, dan uap harum satay yang menggugah selera. Acara Flavours of Malaysia 2026, yang digelar Sabtu (6/6/2026), menjadi babak baru dalam diplomasi budaya antarnegara serumpun, di mana kuliner bukan lagi sekadar daya tarik wisata, melainkan jembatan emosional yang menyentuh hati.
Direktur Jenderal Pariwisata Malaysia, Mohd Amirul Rizal Abdul Rahim, yang hadir langsung dalam peluncuran program ini, menekankan bahwa makanan adalah bahasa universal yang tak perlu diterjemahkan. “Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat keindahan alam, tapi untuk merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Dan di situlah kuliner menjadi kunci utama,” ujarnya.
Program Flavours of Malaysia 2026 sengaja dirancang untuk menyentuh akar budaya multietnis negara itu—perpaduan Melayu, Tiongkok, India, dan berbagai komunitas di Sabah dan Sarawak. Hidangan seperti char kway teow yang gurih, laksa yang pedas-beraroma, dan kuih-muih tradisional yang manis menjadi saksi bisu sejarah panjang akulturasi yang tak pernah pudar.
Data yang disajikan dalam acara menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar wisata terbesar bagi Malaysia, dengan ribuan pelajar Indonesia menempuh pendidikan di sana dan ratusan ribu wisatawan lintas batas setiap tahunnya. Namun, yang lebih menarik adalah tren baru: wisatawan Indonesia kini tidak hanya mencari destinasi, tapi pengalaman autentik—dan kuliner menjadi salah satu indikator utama keputusan mereka.
“Kami tidak ingin hanya dianggap sebagai negara yang indah secara visual. Kami ingin diingat sebagai tempat yang hangat, lezat, dan penuh cerita,” tambah Amirul.
Gelaran ini bukan sekadar pameran makanan. Ia adalah bagian dari strategi besar Malaysia untuk memperkuat hubungan *people-to-people* dengan Indonesia, seiring dengan upaya sebelumnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Dengan memilih Jakarta sebagai titik awal promosi, Malaysia menunjukkan keseriusannya dalam membangun kedekatan bukan hanya melalui kebijakan pemerintah, tapi melalui meja makan bersama.
Di tengah arus global yang sering memisahkan bangsa-bangsa lewat politik dan perbedaan, Malaysia memilih jalan yang lebih manusiawi: membagikan sepiring nasi lemak, lalu menunggu senyum yang muncul di wajah orang yang mencicipinya.
Karena kadang, kedekatan antarbangsa tidak dimulai dari perjanjian diplomatik—tapi dari sebuah aroma rempah yang mengingatkan pada masa kecil, atau rasa manis yang sama seperti yang pernah kita coba di warung sebelah rumah.
Dan di situlah, Malaysia berhasil—bukan hanya sebagai tujuan wisata, tapi sebagai sahabat yang mengundang kita untuk duduk, makan, dan berbagi cerita.

















