Sumbawanews.com,- Di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang menghantam industri pariwisata global, Malaysia memperkuat upaya menarik wisatawan Indonesia dengan kampanye promosi yang lebih luas dan strategis. Direktur Jenderal Pariwisata Malaysia, Mohd Amirul Rizal Abdul Rahim, mengungkapkan bahwa meski target awal sebanyak lima juta kunjungan dari Indonesia kini dievaluasi ulang akibat penurunan mobilitas internasional, negara tetangga ini tetap menempatkan Indonesia sebagai pasar utama.
Kampanye terbaru yang digelar di Main Atrium Gandaria City, Jakarta, bukan sekadar pameran destinasi—melainkan langkah sistematis untuk mendekatkan diri ke akar pasar. Setelah Jakarta, tim promosi Malaysia akan melanjutkan kegiatan business-to-business (B2B) ke Serang, Bandung, hingga Jayapura. Tujuannya jelas: tidak lagi mengandalkan ibu kota sebagai satu-satunya pintu masuk, tapi menjangkau calon wisatawan di berbagai lapisan sosial dan geografis.
Amirul menekankan bahwa Indonesia bukan hanya sumber wisatawan, tapi mitra strategis dalam mempertahankan ketahanan sektor pariwisata di tengah ketidakpastian global. Untuk itu, Malaysia mulai mengemas paket wisata yang lebih holistik: menggabungkan layanan kesehatan, pendidikan, belanja, dan alam dalam satu pengalaman perjalanan. Kerja sama dengan Malaysia Healthcare Travel Council menjadi kunci, menawarkan paket medical tourism yang menarik bagi keluarga Indonesia yang mencari perawatan berkualitas dengan biaya kompetitif.
Destinasi seperti Langkawi, Penang, dan Cameron Highlands tetap menjadi andalan, tapi kini ditopang oleh promosi berbasis kebutuhan spesifik—mulai dari perawatan medis, sekolah internasional, hingga wisata halal yang semakin diminati. “Kami tidak hanya menjual tempat, tapi pengalaman yang menyeluruh,” ujar Amirul dalam sesi wawancara usai pembukaan Malaysia Fair 2026.
Langkah ini sekaligus menjadi respons cerdas terhadap tren perubahan perilaku wisatawan pasca-pandemi dan krisis global. Dengan pendekatan yang lebih personal, terstruktur, dan menjangkau daerah-daerah pinggiran, Malaysia berupaya membangun loyalitas jangka panjang—bukan sekadar lonjakan kunjungan sementara.
Bagi Indonesia, ini bukan hanya soal arus wisatawan keluar, tapi juga peluang kolaborasi lintas sektor: dari transportasi, akomodasi, hingga layanan kesehatan yang bisa saling menguatkan. Dalam dunia pariwisata yang semakin kompetitif, Malaysia menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya soal jumlah, tapi kedalaman hubungan.

















