Sumbawanews.com,- Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran berada di ambang kesepakatan terkait program nuklir, meskipun lembaganya tidak terlibat langsung dalam negosiasi. Dalam konferensi pers di Moskow pada Jumat (5/6/2026), Grossi mengatakan bahwa kedua pihak telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam dialog tertutup yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
“Kami bukan pihak yang bernegosiasi, tetapi kami menjaga saluran komunikasi terpisah dengan masing-masing pihak,” ujar Grossi. “Kami yakin kesepakatan teknis bisa dicapai dalam waktu dekat—meski isu-isu politik di luar cakupan IAEA masih perlu dijembatani.”
Pernyataan ini muncul setelah serangkaian ketegangan militer yang memicu kekhawatiran global. Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menewaskan warga sipil dan merusak infrastruktur kritis. Iran merespons dengan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah dan wilayah Israel. Kedua belah pihak kemudian sepakat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April, membuka ruang bagi dialog damai di Islamabad—meski hingga kini belum ada terobosan nyata.
Grossi mengungkapkan bahwa ia telah berdiskusi intensif dengan perwakilan Rusia, Tiongkok, dan Iran untuk memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai tetap memenuhi standar transparansi dan verifikasi IAEA. Ia menekankan, tantangan terbesar bukan pada teknis pengawasan, melainkan pada kemampuan Iran untuk memenuhi kewajiban internasional dalam kondisi sanksi dan tekanan ekonomi yang masih berlangsung.
“Saya menegaskan kembali bahwa tanpa kepastian akses inspeksi penuh dan kepatuhan terhadap perjanjian non-proliferasi, tidak ada solusi berkelanjutan,” katanya.
Kesepakatan yang sedang dirundingkan diyakini akan mencakup pembatasan kaya uranium, pembukaan kembali akses inspektur IAEA ke fasilitas nuklir sensitif, serta kemungkinan pelonggaran sanksi bertahap. Namun, aspek-aspek politik seperti pengakuan kedaulatan, penghentian serangan militer, dan peran Israel masih menjadi titik rawan yang harus dipecahkan oleh diplomatik tingkat tinggi.
Gedung Putih sebelumnya telah menyatakan harapan akan kejelasan kesepakatan dalam waktu dekat, sementara Teheran menegaskan bahwa setiap kemajuan harus diikuti dengan penghapusan sanksi secara menyeluruh. Di tengah ketidakpastian geopolitik, pernyataan Grossi menjadi sinyal paling jelas bahwa diplomasi nuklir—meski rapuh—masih bernapas.
Dengan latar belakang konflik yang memanas dan risiko perang yang semakin nyata, kesepakatan yang hampir tercapai ini bisa menjadi titik balik bagi stabilitas Timur Tengah—atau justru menjadi batu ujian terakhir bagi tatanan keamanan internasional yang sudah retak.

















