Sumbawanews.com,- Sukses penerapan kecerdasan buatan (AI) di perusahaan tidak bergantung pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada kesiapan data, keamanan, dan budaya organisasi yang mendukung. Direktur Virtus Technology Indonesia, Christian Atmadjaja, menegaskan bahwa banyak perusahaan masih terjebak pada tahap uji coba atau proof of concept, padahal perlu memperluas penggunaan AI secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya prediktabilitas, skalabilitas, kesiapan platform, dan perlindungan data sebagai fondasi utama. Prinsip “garbage in, garbage out” pun menjadi peringatan keras: data berkualitas buruk akan menghasilkan output yang tidak akurat.
Riset Gartner pada September 2026 menunjukkan bahwa 60 persen organisasi berisiko gagal mengelola AI secara efektif pada 2027 jika mengabaikan tantangan budaya. Resistensi terhadap perubahan pola pikir dan kebiasaan kerja menjadi hambatan utama, lebih besar daripada kendala pendanaan. Budaya data bukan tanggung jawab tim IT semata, melainkan harus menjadi bagian integral dari seluruh unit bisnis. Kolaborasi antara tim teknologi dan unit operasional diperlukan agar tata kelola data selaras dengan tujuan strategis perusahaan.
Literasi data dan AI juga harus ditanamkan dalam aktivitas sehari-hari karyawan, bukan hanya melalui pelatihan formal. Keberhasilan AI diukur bukan dari jumlah proyek atau perangkat yang dibeli, tetapi dari kualitas data, keamanan sistem, tata kelola yang konsisten, dan keterlibatan aktif seluruh pihak dalam organisasi.















