Jakarta, Sumbawanews.com. Sumbawa bukanlah tanah kosong tanpa penghuni. Tetapi di dalamnya ada manusia dan kultur yang kuat yang harus kita jaga dan hormati. Hal ini disampaikan Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV, Sultan Sumbawa ketika menerima Sumbawanews di kediamannya di Jakarta Senin 26/10.
Menanggapi banyaknya investasi di bisnis pertambangan yang mulai melakukan aktivitas di Sumbawa, Sultan menilai sesuatu yang baik dengan catatan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk “Tau ke Tanah Samawa” (orang dan tanah Sumbawa).
“Saya juga telah berpesan kepada Pak Bupati agar benar-benar memperhatikan lingkungan dan sumber-sumber air di Selatan Sumbawa. Pastikan bahwa sumber-sumber air aman, dan terjaga dengan baik” katanya.
Lebih jauh Sultan menjelaskan yang dimaksud kultur orang Sumbawa, adalah tatanan nilai yang telah menjadi dasar dan filosofi ‘parenti kalanis’ “tau ke tanah Samawa” (pegangan dan pedoman orang dan tanah Sumbawa) semuanya termaktub dalam motto filosofis : “adat barenti ko sara’, sara’ barenti ko kitabullah”/ adat berpedoman pada syariat (hukum agama), dan syariat berpedoman pada Al-Qur’an.
Nilai-nilai tersebut adalah; “Takit ko Nene’ kangila boat lenge” Takut kepada Allah SWT (Sang Pencipta) dan malu untuk melakukan perbuatan buruk atau cela.
“To’ ke Ila”: sebuah konsep keseimbangan diri di mana To/ tahu/cerdas/paham menempatkan diri, dan Ila’ berarti rasa malu serta menjaga harga diri. Pegangan hidup, etos, dan pedoman moral bagi masyarakat Sumbawa di mana pun berada, sejak dulu kala bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Dalam usianya yang telah menginjak 85 tahun Sultan berharap bahwa yang menjaga dan mempertahankan nilai-nilai itu bukan orang lain, tetapi masyarakat Sumbawa sendiri. Terlebih anak-anak Muda Sumbawa akan menentukan masa depan dan kulturnya. Kehadiran modernisasi dan investasi jangan sampai justru mengikis nilai-nilai tersebut.
Karena itu siapapun yang akan beraktivitas bisnis maupun sosial di Tanah Sumbawa harus memahami dengan baik bahwa di dalam masyarakat tidak hanya ada manusia, tetapi terdapat tatanan nilai yang menjadi pegangan hidup orang Sumbawa.
Pemahaman ini katanya, sangat penting agar saling pengertian semua pihak dapat terjalin dengan baik. (SN/007).















