Sumbawanews.com,- Timnas Indonesia mulai fokus membangun skuad jangka panjang untuk kualifikasi Piala Dunia 2030 setelah gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Di bawah arahan pelatih John Herdman yang sudah menangani tim selama sembilan bulan, performa Garuda menunjukkan progres signifikan, ditandai dengan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026. Skuad saat ini masih banyak diisi pemain dari era Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert, sambil terus memperkuat lini dengan pemain keturunan seperti Luke Vickery dan Mitchell Baker. PSSI dan Herdman kini memperluas pencarian ke talenta diaspora di Eropa yang memenuhi syarat naturalisasi, dengan fokus pada verifikasi garis keturunan, proses administrasi kewarganegaraan, dan kesiapan fisik serta mental para calon pemain.
Salah satu nama paling menonjol di posisi bertahan adalah Pascal Struijk, bek 26 tahun yang kini membela Brighton di Premier League. Struijk, yang lahir di Deurne, Belgia, memiliki darah Indonesia melalui ibunya—kakek dan neneknya berasal dari Indonesia dan hijrah ke Eropa pada masa kolonial Belanda. Ia pernah membela Timnas Belanda U-17 pada 2016 dengan tiga penampilan, namun belum pernah tampil untuk timnas senior mana pun. Dengan 21 penampilan di Liga Inggris musim 2022/2023, mencatat dua gol dan satu assist, Struijk dinilai cocok untuk sistem tiga bek tengah yang kerap diterapkan Timnas Indonesia.
Di lini depan, Dean Zandbergen menjadi opsi menjanjikan. Penyerang berpostur 188 cm ini mencetak 15 gol untuk VVV Venlo pada musim 2025/2026, lalu mempertahankan ketajamannya dengan empat gol dalam empat laga awal musim 2026/2027 sebelum pindah ke Dinamo Bucuresti. Di tim asal Rumania itu, ia langsung berkontribusi dengan satu gol dan satu assist dalam empat penampilan awal. Konsistensi mencetak gol dan kemampuan fisiknya menjadikannya kandidat kuat untuk memperdalam lini serang Garuda.
Kedua pemain ini, bersama sejumlah calon lain yang sedang dipantau, menjadi bagian dari strategi jangka panjang PSSI untuk membangun tim yang kompetitif di kancah global. Proses naturalisasi tetap bergantung pada kelengkapan dokumen dan keputusan pribadi para pemain, namun potensi mereka membuka pintu baru bagi masa depan sepak bola Indonesia.















