Sumbawanews.com,- Pada akhir pekan lalu, dua insiden kekerasan terhadap bus tim sepak bola terjadi dalam waktu dekat, memicu kemarahan keras Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 21.30 WIB, bus rombongan Persib Bandung U-18 diserang oknum suporter Persija Jakarta di Rest Area KM 360, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Bus mengalami kerusakan parah, koper pemain dan ofisial dirampas, dan dua personel mengalami kekerasan fisik hingga terpisah dari rombongan. Sehari setelahnya, pada Senin dini hari, 12 Oktober 2026, bus The Jakmania yang baru pulang dari Bantul menjadi sasaran pelemparan di Tol Palikanci KM 199–200, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyebabkan sejumlah orang terluka, termasuk seorang suporter perempuan.
Erick Thohir, dalam jumpa pers di Kemenpora pada Selasa, 13 Oktober 2026, mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk kriminalitas yang tak bisa ditoleransi. Ia menegaskan bahwa penyerangan bus, perampasan barang, pembakaran, penghancuran, hingga penggunaan benda tumpul untuk kekerasan telah melampaui batas fanatisme dan masuk ke ranah kriminal. Ia juga menekankan bahwa aksi balasan dari pihak lain pun harus menjadi perhatian serius, bukan justifikasi.
PSSI meminta I.League dan klub terkait segera bertanggung jawab atas keamanan suporter, terutama dalam konteks kembali dibukanya kehadiran suporter tandang. Erick menegaskan, komitmen PSSI terhadap FIFA untuk memastikan setiap suporter pulang dengan selamat tidak bisa diabaikan. Jika dalam satu minggu ke depan tidak ada kesepakatan antara liga dan klub untuk menjamin keselamatan, PSSI tidak segan mengambil tindakan tegas—termasuk melarang kembali suporter tandang atau mengenakan sanksi pengurangan poin kepada klub yang gagal mengendalikan pendukungnya.
Erick menegaskan, kebijakan membuka ruang bagi suporter away bukanlah kemudahan, melainkan tanggung jawab bersama. Klub yang tidak mampu menjaga ketertiban suporternya akan dituntut secara institusional, bukan hanya secara moral.















