Sumbawanews.com,- Ballon d’Or, penghargaan individu paling bergengsi dalam sepak bola global, telah menjadi simbol keunggulan pemain terbaik sejak pertama kali diberikan. Meski berasal dari Eropa, ajang ini kini diakui di seluruh dunia sebagai penentu kualitas seorang pesepak bola. Namun, di balik dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, serta sejumlah keputusan pemungutan suara yang memicu kontroversi, ada sejumlah legenda yang nyaris menyentuh bola emas—tapi hanya menjadi saksi.
Andres Iniesta, arsitek di balik kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2010 dengan gol penentu di final, menjadi salah satu nama paling disayangkan. Pada tahun itu, ia dinilai oleh banyak pengamat layak memenangkan Ballon d’Or, namun akhirnya harus puas finis di peringkat dua, kalah dari rekan satu timnya di Barcelona, Lionel Messi. Sementara itu, Thierry Henry, pencetak gol terbanyak di lima liga top Eropa pada 2003 dan ikon Arsenal yang membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 2006 serta Piala Eropa 2000, juga gagal meraih trofi tersebut. Ia finis di posisi kedua, kalah dari Pavel Nedved—keputusan yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan di kalangan fans dan analis.
Kedua pemain ini bukan sekadar pemain hebat; mereka adalah simbol kejeniusan teknis, konsistensi, dan dampak besar di level tim nasional maupun klub. Namun, dalam dunia Ballon d’Or, keberuntungan, narasi, dan dinamika suara sering kali menentukan siapa yang berdiri di atas podium—bukan hanya siapa yang paling layak.















