Sumbawanews.com,- Pengamat sepak bola Hadi Gunawan atau akrab disapa Bung Ahay memperingatkan bahwa melonjaknya jumlah pemain asing di Liga 1 (Super League) berpotensi mengurangi kesempatan pemain lokal mendapatkan menit bermain, yang berdampak langsung pada perkembangan talenta yang menjadi tulang punggung Timnas Indonesia. Ia menekankan bahwa menit bermain adalah kunci utama dalam meningkatkan kualitas pemain, dan tanpa kesempatan berkompetisi secara reguler, pemain lokal sulit berkembang menuju level internasional. Bung Ahay membandingkan kondisi saat ini dengan era 1990-an hingga awal 2000-an, ketika batas pemain asing dibatasi hanya tiga hingga empat orang per klub, sehingga posisi di lapangan lebih banyak diisi pemain lokal. Ia menegaskan, bukan hanya klub atau pemain asing yang harus disalahkan, tetapi pemain Indonesia juga wajib meningkatkan kemampuan dan mentalitas, bukan sekadar mengeluh.
Bung Ahay menilai, keberadaan pemain asing seharusnya dijadikan sebagai motivasi, bukan ancaman. “Kritik buat pemain lokal adalah jangan ngambek juga. Kalau lu merasa kurang, lu berusaha kejar dong,” ujarnya dalam wawancara di YouTube Bangku Cadangan Podcast, yang dikutip Selasa, 18 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa pemain lokal harus aktif mempelajari kelebihan pemain asing—baik dari segi teknik, taktik, maupun mental—dan menggunakannya sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki diri. “Harusnya pemain-pemain lokal kita juga belajar, jangan cuma datang latihan, pulang. Kalau bisa nambah dong. Apa sih kelebihan pemain asing itu? Ya gua harus lebih baik,” tambahnya.
Ia menyoroti bahwa kualitas kompetisi domestik secara langsung memengaruhi kesiapan tim nasional. Dengan lebih banyak pemain lokal yang mendapat kesempatan bermain, proses identifikasi dan pembinaan bakat untuk Timnas Indonesia menjadi lebih efektif. Di era lalu, ketika batas pemain asing ketat, banyak pemain Indonesia yang tumbuh dan berkembang di level klub, lalu secara alami menjadi pilar utama tim nasional. Kini, dengan dominasi pemain asing yang semakin besar, ia meminta semua pihak—klub, federasi, hingga pemain—untuk bertanggung jawab: klub harus bijak dalam kebijakan rekrutmen, federasi harus mendorong regulasi yang seimbang, dan pemain lokal harus berani berubah.
Bung Ahay menutup dengan pesan tegas: tanpa perubahan sikap dari dalam, keluhan tentang minimnya pemain lokal di tim nasional akan terus berulang. “Jangan salahkan lingkungan kalau kamu tidak berusaha mengubah diri,” katanya.















