Sumbawanews.com,- Ketua Umum PSSI Erick Thohir menantang publik untuk membuktikan dukungan nyata terhadap sepak bola putri Indonesia dengan datang langsung menonton pertandingan Liga Putri Indonesia (IWL) 2026/2027, yang resmi bergulir di Stadion Madya, Jakarta, pada Minggu, 18 Oktober 2026. Setelah lebih dari enam tahun tanpa kompetisi reguler, liga ini kembali hadir sebagai langkah strategis membangun jalur pembinaan pemain wanita, dengan enam klub berbasis Jabodetabek bertanding hingga 30 Januari 2027. Erick menekankan bahwa keberlangsungan liga tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kehadiran penonton yang konsisten. “Kepada mereka yang selama ini berteriak, ‘Mana liganya?’—sekarang ayo datang dan menonton. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik. Mari datang dan buktikan kontribusi kita bukan hanya lewat perkataan, tetapi juga melalui kehadiran,” ujarnya.
IWL 2026/2027 diikuti oleh Garudayaksa FC, Persita, Persikad, Dewa United Banten FC, Persija Jakarta, dan FC Bekasi City. Semua pertandingan diselenggarakan di sejumlah stadion di sekitar ibu kota, dengan format kompetisi mencakup fase reguler, semifinal, perebutan tempat ketiga, hingga final. Erick menyatakan antusiasme di pekan pertama sudah menunjukkan sinyal positif, namun ia menekankan pentingnya setiap klub membangun basis suporter mandiri agar kompetisi bisa bertahan jangka panjang. PSSI dan seluruh klub peserta telah berkomitmen menjalankan liga ini selama lima tahun ke depan, setelah itu akan dilakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan arah selanjutnya.
Erick juga menegaskan, PSSI berupaya keras mencegah klub-klub mengalami kendala operasional yang bisa menghentikan kiprah mereka di tengah musim. “Kami ingin memastikan klub-klub ini bisa berjalan dengan baik. Jangan sampai ada persoalan yang membuat klub berhenti di tengah jalan. Itu yang sering saya sampaikan dan menjadi alasan PSSI sangat berhati-hati,” katanya. Kembalinya IWL bukan sekadar kembalinya pertandingan, tapi sebuah harapan besar untuk membangun ekosistem sepak bola putri yang berkelanjutan—dan keberhasilannya kini berada di tangan para suporter yang diundang untuk hadir, bukan hanya berbicara.















