Sumbawanews.com,- Bek kanan Fulham Kenny Tete, yang memiliki darah Nias dan Jakarta, menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin lagi memperkuat Timnas Indonesia karena telah mengikuti 14 laga resmi bersama tim senior Belanda. Pemain berdarah campuran itu menyatakan keraguan serius atas kemungkinan beralih federasi, mengacu pada aturan FIFA yang melarang pemain berganti tim nasional setelah tampil lebih dari tiga kali untuk negara sebelumnya. Tete, yang pernah bermain bersama Thom Haye dan Sandy Walsh di level usia muda Belanda, mengaku menghormati keputusan dan komitmennya terhadap tim yang pernah membawanya ke panggung internasional. Meski memiliki akar keluarga kuat di Indonesia—nenek dari ibu lahir di Jakarta dan kakek asal Nias—ia menyadari bahwa regulasi FIFA menjadi penghalang tak terelakkan.
Kenny Tete mengungkapkan hal ini dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Sport77 Official, di mana ia juga menyebut kebanggaannya atas karier bersama timnas Belanda. Ia menambahkan bahwa meski sempat mendengar isu bahwa pemain dengan latar belakang keturunan Indonesia bisa beralih, ia yakin aturan yang berlaku tidak memungkinkan perubahan status tersebut. Dengan 14 caps bersama Belanda, Tete secara resmi tidak memenuhi syarat untuk mendaftar sebagai pemain naturalisasi di Timnas Indonesia, meskipun ia pernah mengunjungi ibu kota dan menyentuh akar budayanya di Tanah Air.
Ia juga mengakui bahwa kehadirannya di Jakarta bersama ibu, Natascha Simon, dan keluarga bukan sekadar mudik, tapi juga momen reflektif untuk mengenang asal-usulnya. Neneknya lahir di Jakarta, sementara kakeknya berasal dari Nias, Sumatera Utara. Namun, karena ibunya lahir di Amsterdam dan keluarganya menetap di Belanda sejak lama, Tete tumbuh dan berkembang dalam sistem sepak bola Belanda, yang akhirnya membawanya ke level profesional di Premier League.
Meski sempat menjadi rekan satu tim Thom Haye di timnas Belanda U-17 hingga U-19, Tete tidak menutup pintu untuk tetap menjaga hubungan emosional dengan Indonesia. Ia justru memberi pujian kepada Haye yang kini memperkuat Garuda, menyebutnya sebagai pemain luar biasa. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan untuk tidak berganti tim nasional bukan karena kurangnya cinta pada akar budaya, melainkan ketaatan pada aturan yang mengikat para pemain internasional.















