Sumbawanews.com,- Timnas Indonesia memastikan diri sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand 4-2 dalam adu penalti, Senin, 5 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, setelah bermain imbang 2-2 selama 120 menit. Dalam momen puncak kemenangan, para pemain Thailand tetap berdiri di lapangan, menyaksikan dengan diam dan penuh penghormatan saat skuad Garuda menerima trofi — sebuah sikap yang kontras dengan perilaku sejumlah tim besar di turnamen besar sebelumnya. Kapten Thailand, Chanathip Songkrasin, menjelaskan bahwa kekalahan tidak menghapus kewajiban untuk menghormati pemenang. “Kita harus menghormati para pemenang. Hasil adalah hasil, dan kita harus mengucapkan selamat kepada Indonesia,” ujarnya. Meski merasa kecewa, ia menegaskan bahwa sportivitas tetap menjadi nilai utama di lapangan.
Kemenangan ini membawa Indonesia meraih gelar pertama dalam ajang tersebut setelah 35 tahun, sekaligus memperdalam rivalitas sengit dengan Thailand yang akan kembali bersua di Piala Asia 2027. Kedua tim tergabung dalam Grup F bersama Jepang dan Qatar, menjadikan pertemuan ulang sebagai salah satu laga paling ditunggu di Asia. Pelatih Indonesia, John Herdman, langsung mengalihkan fokus ke turnamen mendatang, meski tim masih menikmati euforia kemenangan. Ia membuka peluang memanggil pemain baru, termasuk Jay Idzes yang absen karena cedera selama ASEAN Cup, serta Mees Hilgers, Miliano Jonathans, dan Marselino Ferdinan untuk memperkuat kompetisi di dalam skuad. Dua laga persiapan di November 2026 akan menjadi ujian penting sebelum berangkat ke Arab Saudi, tempat Piala Asia 2027 digelar dari 7 Januari hingga 5 Februari.
Sikap tim Thailand yang tetap berdiri di lapangan, bukan membelakangi perayaan lawan, menjadi sorotan luas di tengah perdebatan soal sportivitas di sepak bola modern. Pengamat sepak bola Tommy Welly atau Bung Towel menanggapi dengan menyerukan agar publik Indonesia menikmati kemenangan ini tanpa terjebak dalam polarisasi politik. “Jangan karena tidak suka Erick Thohir, lalu tidak bangga pada Timnas,” tegasnya, mengingatkan bahwa gelar ini adalah milik seluruh bangsa, bukan sekadar pencapaian manajemen.















