Sumbawanews.com,- Timnas Indonesia meraih kemenangan telak 5-1 atas Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 1 Desember 2010, dalam laga fase grup Piala AFF 2010, sebuah hasil yang kini jadi referensi psikologis menjelang pertemuan ulang keduanya di FIFA ASEAN Cup 2026. Kemenangan spektakuler itu menjadi momen paling bersejarah dalam duel kedua tim di kancah Asia Tenggara, sekaligus bukti bahwa Indonesia mampu menghancurkan kekuatan Malaysia di depan publik sendiri. Pertandingan ulang di GBK pada Senin, 28 September 2024, menjadi penentu siapa yang akan memuncaki Grup A dan berhak melangkah ke babak final. Indonesia, yang saat ini berada di posisi kedua dengan tiga poin usai menang 2-0 atas Singapura, wajib menang untuk menggusur Malaysia yang unggul berkat kemenangan 3-0 atas Bangladesh. Malaysia hanya butuh hasil imbang untuk tetap memimpin klasemen.
Pertandingan 2010 berawal dengan keterpurukan Indonesia. Norshahrul Idlan bin Talaha membuka keunggulan Malaysia pada menit ke-18, membuat tuan rumah terpuruk di depan pendukung sendiri. Namun, respons cepat datang empat menit berselang: Asraruddin Putra Omar mencetak gol bunuh diri, menyamakan kedudukan 1-1. Cristian Gonzales kemudian mengubah segalanya dengan golnya di menit ke-33, membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk Indonesia. Di babak kedua, serangan Garuda tak terbendung. Muhammad Ridwan memperlebar keunggulan lewat kombinasi satu-dua dengan Ahmad Bustomi pada menit ke-52. Arif Suyono, yang masuk sebagai pemain pengganti, menambah penderitaan Harimau Malaya dengan gol keempat di menit ke-76. Penutup sempurna datang dari Irfan Bachdim, yang menyelesaikan serangan di sisi kiri dengan tendangan akurat pada menit ke-90+4, mengunci skor 5-1.
Kemenangan itu bukan sekadar angka, tapi simbol kepercayaan diri yang pernah menghiasi timnas Indonesia di era keemasan. Sekarang, dengan pertemuan ulang di ajang yang sama—FIFA ASEAN Cup 2026—momen 2010 kembali menjadi inspirasi. Para pemain dan pelatih menyadari, bukan hanya soal taktik, tapi juga mentalitas: bagaimana bangkit dari ketinggalan, memanfaatkan peluang, dan menuntaskan lawan dengan tegas. Di GBK, di depan 80 ribu suporter yang bersorak, sejarah bisa kembali ditulis—bukan hanya oleh statistik, tapi oleh semangat yang tak pernah padam.















