Sumbawanews.com,- Timnas Indonesia akan menghadapi ujian berat saat bertemu Timnas Thailand dalam final FIFA ASEAN Cup 2026, Senin, 5 Oktober 2026, pukul 20.00 WIB di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Laga ini menentukan sang juara setelah Indonesia lolos sebagai juara Grup A dengan 7 poin, sementara Thailand menyusul sebagai juara Grup B dengan 6 poin. Tiga pemain Thailand menjadi fokus utama strategi pertahanan Indonesia: Chanathip Songkrasin, Sarach Yooyen, dan Jude Soonsup-Bell.
Chanathip Songkrasin, sang kapten berusia 33 tahun, menjadi otak permainan Thailand dengan visi bermain luar biasa dan pengalaman meraih tiga gelar Piala AFF. Kreativitasnya sebagai gelandang serang menjadi kunci dalam menghubungkan lini tengah dan serangan, sehingga lini tengah Indonesia wajib mengawal ketat pergerakannya. Di sisi lain, Sarach Yooyen, gelandang tengah dari BG Pathum United, menguasai ritme permainan dan telah mencetak satu gol di turnamen ini. Ia juga menjadi eksekutor bola mati andalan Thailand, membuatnya menjadi ancaman ganda di set piece. Paling mengkhawatirkan adalah Jude Soonsup-Bell, pemain kelahiran Inggris yang menimba ilmu di akademi Chelsea dan Tottenham. Dengan kecepatan, pergerakan tanpa bola yang cerdas, dan satu gol yang sudah dicetak, ia menjadi ancaman utama saat serangan balik, terutama menghadapi lini belakang Indonesia yang dipimpin Elkan Baggott.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menekankan pentingnya konsentrasi penuh sepanjang 90 menit. “Dari peluit pertama hingga peluit terakhir, kami tidak boleh hanya bermain mengikuti suasana pertandingan. Kami harus tahu bahwa jika kami menjalankan tugas kami dengan baik, kami memiliki kualitas untuk mencapai tujuan tersebut,” ujarnya. Sementara itu, pelatih Thailand, Anthony Hudson, sengaja merotasi pemain saat kalah 1-2 dari Filipina di laga terakhir grup, demi menjaga kondisi fisik para inti menjelang final.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, dikonfirmasi hadir di SUGBK, menjadikan laga ini sorotan global. Meski peringkat FIFA Indonesia dan Thailand terpaut jauh, Herdman menegaskan bahwa kemenangan bukan soal angka, tapi soal kedisiplinan dan eksekusi taktis. Pertandingan ini bukan hanya soal gelar, tapi juga soal harga diri sepak bola Asia Tenggara.















