Sumbawanews.com,- Michael Carrick tetap memimpin Manchester United menjelang laga kontra Chelsea pada Sabtu, 31 Oktober 2026, meski klub tengah mengalami krisis performa setelah kekalahan 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford pada 25 Oktober 2026. Keputusan mempertahankan Carrick diambil setelah pertemuan antara direktur sepak bola Jason Wilcox dan CEO Omar Berrada, yang sempat mempertimbangkan pergantian pelatih. Namun, manajemen memberikan kesempatan satu pertandingan lagi kepada mantan gelandang Setan Merah itu, meski kepercayaan terhadapnya dinilai sangat rapuh.
Manchester United belum menang dalam delapan pertandingan terakhir di semua kompetisi, dan kini hanya unggul satu poin dari zona degradasi di klasemen Premier League. Tantangan semakin berat dengan jadwal padat: lawatan ke Stamford Bridge melawan Chelsea, lalu laga Liga Champions melawan AS Roma, dan lanjutan liga melawan Aston Villa. Di tengah tekanan, analis Sky Sports News Rob Dorsett menyatakan bahwa keputusan mempertahankan Carrick bukan tanda kepercayaan penuh, melainkan penundaan tak terhindarkan. “Kita semua mengira ini akan menjadi akhir bagi Carrick,” ujarnya, menambahkan bahwa suasana di klub dan reaksi suporter jelas menunjukkan masa jabatannya sudah berakhir.
Ketegangan juga merembes ke ruang ganti, dengan kabar bahwa Bruno Fernandes terbuka mengkritik taktik Carrick di depan publik. Dorsett mempertanyakan bagaimana Carrick bisa membangun keharmonisan tim di tengah kehilangan kepercayaan pemain kunci. “Ini situasi yang sangat sulit—seperti menunda sesuatu yang pada akhirnya tak bisa dihindari,” katanya. Pertandingan melawan Chelsea pun menjadi ujian krusial: hasilnya tidak hanya menentukan nasib laga, tapi juga masa depan Carrick di Manchester United.















