Sumbawanews.com,- Bournemouth memainkan laga kandang pertama di kompetisi Eropa dalam sejarah 127 tahun klub, dan meraih kemenangan telak 3-0 atas Sturm Graz pada matchday kedua Liga Europa, Jumat (16/10/2026) dini hari WIB. Di Vitality Stadium, ribuan suporter menyaksikan momen bersejarah yang dimeriahkan lagu “The Impossible Dream” dan tifo raksasa yang menggambarkan perjalanan klub dari krisis ke panggung Eropa. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, tapi simbol kebangkitan dari ambang kehancuran finansial pada 2008.
Pada 2008, Bournemouth masuk administrasi akibat krisis keuangan, terdegradasi dari League One dengan pengurangan 10 poin, lalu menerima tambahan pengurangan 17 poin untuk bisa bertahan di League Two musim 2008/2009. Di bawah asuhan Eddie Howe, tim yang terancam terlempar dari Football League justru bertahan dengan finis di peringkat ke-21. Keberhasilan itu menjadi fondasi kebangkitan panjang: pada 2015, mereka promosi ke Premier League untuk pertama kalinya. Kini, setelah 18 tahun, Bournemouth kembali mencatatkan nama di peta sepak bola Eropa.
Kemenangan 3-0 atas Sturm Graz menyamai rekor Bolton Wanderers, yang memenangi dua laga pertama di kompetisi Eropa pada Piala UEFA 21 tahun silam. Suporter tetap bertahan di tribun setelah peluit panjang, menikmati momen yang tak terlupakan—dengan lagu dan tifo yang mengingatkan semua bahwa mimpi bisa lahir dari kehancuran.
Namun, keberhasilan di Eropa belum terjemahkan di Premier League. Menjelang laga melawan Sunderland, Bournemouth masih berada di posisi ke-18 dengan belum meraih satu kemenangan pun di musim ini. Tantangan sebenarnya baru saja dimulai: mempertahankan momentum di Eropa sambil menyelamatkan diri dari degradasi di kandang sendiri.















