Sumbawanews.com,- Pada 16 Oktober 2026, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengumumkan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) sebagai salah satu kandidat nominasi AFC Member Association of the Year kategori Gold, bersama Hong Kong dan India. Keputusan ini langsung memicu kritik tajam dari sejumlah jurnalis internasional dan media lokal, menyusul skandal pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain yang terbukti pada 2025 dan dihukum oleh FIFA serta Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada Maret 2026.
Jurnalis investigasi asal Prancis, Romain Molina, yang pernah menulis untuk The Guardian dan The New York Times, secara terbuka mempertanyakan integritas keputusan AFC melalui akun X-nya. Ia menyoroti bahwa FAM terbukti bersalah memalsukan kewarganegaraan tujuh pemain—Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel—dan dikenai denda 350 ribu franc Swiss oleh FIFA. CAS pada 5 Maret 2026 menolak banding FAM, mempertahankan denda, meski mengubah sanksi pemain dari larangan total menjadi larangan bermain di pertandingan resmi selama 12 bulan. Molina menyebut keputusan AFC “konyol” dan menyiratkan bahwa pelanggaran etik justru dihargai.
Jurnalis sepak bola internasional John Duerden turut menyuarakan kekecewaan serupa. Ia menyoroti kontras antara tindakan FAM pada 2025 dan nominasi penghargaan pada 2026, menyebut bahwa tidak ada pertanggungjawaban nyata, hanya permintaan maaf yang terlambat. Di Malaysia, media Free Malaysia Today melalui tulisan Frankie D’Cruz pada 18 Oktober 2026 juga mempertanyakan standar penilaian AFC, terutama ketika tata kelola dan akuntabilitas federasi masih menjadi persoalan serius.
AFC sendiri membagi penghargaan asosiasi terbaik ke dalam empat kategori: Platinum, Diamond, Gold, dan Ruby. Pemenang kategori Gold akan diumumkan pada malam AFC Awards di Bangkok, Thailand, pada 19 November 2026. FAM tetap bertahan dalam daftar nominasi meski Komite Disiplin dan Etik AFC menyatakan bahwa perkara naturalisasi tersebut masih dalam proses evaluasi pasca-CAS. Federasi Malaysia mempertahankan bahwa para pemain tidak terlibat dalam urusan administratif dokumen yang bermasalah, namun kritik terhadap keputusan AFC terus menguat dari berbagai penjuru dunia sepak bola.















