Home Berita Nasional Pahlawan Masa Kini: Mereka yang Membuka Jalan, Bukan yang Berdiri di Tengah

Pahlawan Masa Kini: Mereka yang Membuka Jalan, Bukan yang Berdiri di Tengah

Sumbawanews.com,- Di era modern, kepahlawanan tak lagi identik dengan perjuangan fisik di medan perang. Ia hadir lewat tindakan sederhana—memberi kesempatan, membagikan pengetahuan, dan menciptakan karya yang menghidupkan lingkungan sekitar. Pandangan ini terungkap dalam obrolan antara sutradara Bene Dion Rajagukguk, ko-sutradara Kristo Immanuel, dan aktris Vanessa Simorangkir di Jakarta, Kamis. Ketiganya sepakat: pahlawan sejati adalah mereka yang berani mengambil peran, menciptakan ruang bagi orang lain, dan mewujudkan gagasan lewat tindakan nyata.

Bene Dion melihat pahlawan sebagai sosok yang mampu menghidupkan kehidupan—baik bagi dirinya maupun orang lain—tanpa perlu pengakuan publik. Ia mendorong generasi muda untuk berhenti menjadi penonton dan mulai terlibat dalam isu-isu strategis: pelestarian lingkungan, inovasi teknologi, pemberdayaan penyandang disabilitas, ekonomi kreatif, hingga penguatan seni dan budaya. Baginya, literasi bukan sekadar modal pribadi, tapi alat untuk membebaskan potensi orang lain.

Ketika diminta menyebut sosok yang paling membentuk perjalanannya, Bene menunjuk produser Ernest Prakasa. Pada 2019, Ernest mempercayainya menyutradarai film panjang pertamanya, *Ghost Writer*, sebuah lompatan besar yang mengubah karier Bene dari aktor menjadi sutradara profesional. Bukan uang atau fasilitas, tapi kepercayaan dan kesempatan itulah yang menjadi fondasi perjalanan Bene. Ia kemudian menyutradarai dan menulis *Ngeri-Ngeri Sedap* (2022), film drama komedi keluarga Batak yang terpilih mewakili Indonesia di ajang Academy Awards ke-95 untuk kategori Film Fitur Internasional Terbaik. Meski tak masuk nominasi, pencapaian itu menjadi tonggak penting bagi perfilman nasional di kancah global.

Kesuksesan Bene berlanjut lewat keterlibatannya dalam film komedi *Agak Laen* (2024) yang ditonton 9,12 juta penonton, dan sekuelnya *Agak Laen: Menyala Pantiku!* (2025) yang menembus 11.000.866 penonton setelah 132 hari tayang. Di balik semua itu, ia tetap menekankan bahwa dampak terbesar bukan pada angka, tapi pada kesempatan yang diberikan kepada orang lain.

Kristo Immanuel, ko-sutradara *Pulang Kampung*, justru melihat Bene sebagai pahlawan masa kini. Menurutnya, film musikal Batak itu tak akan lahir tanpa inisiatif dan keberanian Bene mendorong proyek ini. Bagi Kristo, kepahlawanan modern bukan sekadar berani berbicara, tapi berani bertindak—mengambil risiko demi isu yang bermakna. Ia percaya platform digital membuka ruang luas bagi generasi muda, tapi keberanian itu harus diarahkan pada persoalan substantif yang membawa manfaat nyata.

Vanessa Simorangkir melihat kepahlawanan dari sisi kebebasan berekspresi. Ia menilai ruang yang terbuka bagi talenta baru adalah bentuk kepahlawanan tersendiri. Keteladanan figur senior yang bersedia membuka jalan, menurutnya, menumbuhkan kepercayaan diri generasi berikutnya. Kolaborasi lintas generasi ini terwujud dalam *Pulang Kampung*, film yang diproduksi Imajinari, Jagartha, dan Trinity Entertainment, menggabungkan sinema dengan kekayaan musik Batak lewat aransemen Viky Sianipar. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia mulai 26 November 2026, didukung album lagu tema orisinal berisi sembilan lagu bernuansa Batak.

Dari Bene, Kristo, hingga Vanessa, terlihat jelas: pahlawan masa kini bukan mereka yang berdiri di podium, tapi yang membuka pintu. Mereka yang membagikan pengetahuan, mempercayakan tanggung jawab, menjaga budaya, dan mendorong orang lain untuk berani berkarya. Kepahlawanan sejati bukan tentang seberapa besar nama dikenal, tapi seberapa dalam kehadirannya menghidupkan orang lain.

Previous articleJabodetabek Berpotensi Hujan Ringan, BMKG Imbau Waspada