Sumbawanews.com,- Sabtu, 17 Oktober 2026, ratusan anak muda bersama sejumlah tokoh nasional mencanangkan gerakan konservasi mangrove di Clungup, Malang Selatan, yang menggabungkan pemulihan ekosistem dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kegiatan bertajuk “Tekad Merawat Pertiwi Berdampak Ekonomi, dari Anak Muda Clungup Malang Selatan untuk Indonesia Lebih Baik” dihadiri Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, aktivis lingkungan Saptoyo dan Mochamad Zamroni (Roni), anggota DPR Andreas Eddy Susetyo, serta Tri Rismaharini. Gerakan ini membangun kolaborasi antara konservasi alam, partisipasi komunitas, dan rencana pengembangan perdagangan karbon berbasis masyarakat.
Saptoyo, penggerak Clungup Mangrove Conservation (CMC) sekaligus peraih Kalpataru 2016, telah memimpin rehabilitasi 158 hektare hutan mangrove selama 25 tahun di pesisir Pantai Clungup, Kabupaten Malang. Dengan 46 jenis mangrove yang tumbuh, kawasan ini menjadi habitat bagi 55 jenis burung dan tempat bertelurnya penyu. Pada 2021, kawasan ini berhasil menyerap 9.000 ton karbon, memberikan manfaat ekonomi langsung senilai Rp2 miliar per tahun bagi 60 pekerja tetap, ibu-ibu pengelola kuliner, dan kelompok nelayan perahu. Rehabilitasi berjalan dengan kekuatan gotong royong tanpa kompensasi finansial, meski sejumlah relawan pernah mengalami kecelakaan kerja.
Roni, Presiden Tunas Hijau Indonesia dan peraih Kalpataru 2015, menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam aksi lingkungan berkelanjutan. Melalui program Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup sejak 2002, pelajar berhasil menanam 35 ribu bibit mangrove dalam satu tahun dan mengolah 110 kilogram sampah organik per hari. Webinar nasional Tunas Hijau seri ke-319 yang disiarkan dari Clungup diikuti lebih dari 3.000 peserta dari berbagai daerah, memperluas penyebaran praktik baik tanpa membebani kawasan yang dibatasi maksimal 300 pengunjung per hari.
Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa konservasi harus berangkat dari kepedulian terhadap persoalan nyata masyarakat, didukung ilmu, riset, dan teknologi yang sesuai karakteristik lokal. Ia menekankan bahwa perlindungan lingkungan tidak boleh diartikan sebagai pembatasan ekonomi, melainkan sebagai dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Andreas Eddy Susetyo mengungkapkan rencana mendorong CMC masuk ke skema perdagangan karbon berbasis komunitas pertama di Indonesia, dengan syarat legalitas kawasan, sertifikasi, penghitungan serapan karbon kredibel, dan pencatatan unit karbon dalam Sistem Registri Unit Karbon Nasional (SRUK).
Tri Rismaharini menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program agar tidak berhenti pada seremoni, dengan menyoroti kebersihan sebagai syarat utama keberlanjutan ekowisata. Ia menekankan bahwa manfaat ekonomi harus dirasakan secara luas oleh masyarakat sekitar—mulai dari pemilik warung, perajin, pemandu, hingga nelayan. Eriko Sotarduga mengajak generasi muda memilih kegiatan yang memberi manfaat bagi banyak orang, termasuk berpartisipasi dalam Pekan Peduli Sampah Nasional pada 9–14 November 2026, dengan fokus pada pengolahan sampah organik menjadi kompos. Rangkaian kegiatan ditutup dengan susur mangrove hingga Pantai Tiga Warna, diikuti ratusan anak muda, ibu-ibu, dan nelayan, menegaskan komitmen bersama menjadikan Clungup sebagai model konservasi yang sejalan dengan kesejahteraan masyarakat.















