Home Berita Nasional Ade Irma Suryani dan Anwar Sadat: Dua Tragedi Bersejarah di 6 Oktober

Ade Irma Suryani dan Anwar Sadat: Dua Tragedi Bersejarah di 6 Oktober

Sumbawanews.com,- Pada 6 Oktober, dua peristiwa besar yang memukul dunia terjadi dalam rentang waktu berbeda: kematian seorang anak kecil sebagai korban kekejaman politik di Indonesia, dan pembunuhan seorang presiden di tengah upaya perdamaian di Timur Tengah. Ade Irma Suryani Nasution, putri bungsu Jenderal Besar Abdul Harris Nasution, tewas tertembak pada 6 Oktober 1965 saat berusia lima tahun, dalam upaya menyelamatkan ayahnya dari serangan Gerakan 30 September. Ia menjadi simbol tak terlupakan dari kebrutalan yang menargetkan keluarga militer. Sementara itu, pada 6 Oktober 1981, Presiden Mesir Anwar Sadat tewas ditembak saat memimpin parade militer di Kairo, menjadi korban pembunuhan politik yang mengguncang dunia Islam dan menghentikan langkah-langkah perdamaian yang ia gagas.

Kematian Ade Irma terjadi dalam konteks kekacauan pasca-G30S, di mana ajudan ayahnya, Kapten Pierre Tendean, juga gugur dalam serangan yang sama. Di benua lain, pembunuhan Sadat dilakukan oleh anggota militer Mesir yang menentang kesepakatan perdamaian dengan Israel, terutama Perjanjian Camp David. Keduanya, meski terpisah oleh jarak dan waktu, menjadi titik balik sejarah yang menggambarkan betapa rentannya kehidupan di tengah konflik ideologis dan kekuasaan.

Pada 6 Oktober 2010, dunia digital juga mencatat momen penting dengan peluncuran resmi Instagram, aplikasi berbagi foto yang kemudian mengubah cara manusia menyimpan dan membagikan momen hidup—dengan ciri khas tampilan persegi yang meniru estetika kamera Polaroid. Tiga peristiwa ini, dari tragedi hingga inovasi, menyatu dalam satu tanggal: 6 Oktober.

Previous articleScamacca Akhiri Paceklik Gol Tiga Tahun, Italia Kalahkan Turki 3-1
Next articleTimnas Indonesia Juara Pertama FIFA ASEAN Cup 2026, Euforia Pecah di Konferensi Pers