Home Berita Internasional Trump Dorong Dialog dengan Rusia, Jerman Tegaskan: Tak Ada Normalisasi

Trump Dorong Dialog dengan Rusia, Jerman Tegaskan: Tak Ada Normalisasi

Sumbawanews.com,- Jerman menolak keras upaya Amerika Serikat memulihkan hubungan diplomatik normal dengan Rusia selama perang di Ukraina masih berlangsung. Pernyataan ini disampaikan Menteri Keuangan Lars Klingbeil di sela pertemuan G20 di Bangkok, Thailand, pada 15 Oktober 2026, menyusul kehadiran Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov—pertama kalinya sejak invasi Februari 2022. Klingbeil menegaskan, kehadiran Rusia di forum internasional tidak boleh diartikan sebagai pengakuan bahwa konflik telah berakhir atau bahwa Moskow kembali menjadi anggota normal G20. “Tidak akan ada sikap berpura-pura seolah Rusia kini kembali sebagai anggota G20 yang normal,” tegasnya.

Pemerintah AS, di bawah Presiden Donald Trump, justru memandang dialog langsung dengan Moskow sebagai kunci untuk memecahkan kebuntuan perang. Wakil Menteri Keuangan AS Erin Browne menyatakan, komunikasi tetap diperlukan bahkan ketika hubungan politik sangat tegang. “Krisis tidak bisa diselesaikan jika pihak-pihak yang bertikai menolak berbicara,” ujarnya. Washington juga tengah mengkaji pelonggaran sanksi terhadap sejumlah kapal tanker yang terkait dengan Rusia dan Iran, demi menekan kenaikan harga energi menjelang pemilu sela November 2026.

Perbedaan pendekatan ini memperdalam jurang antara AS dan sekutu Eropanya. Jerman, bersama negara-negara Eropa lain, menolak segala bentuk normalisasi yang mengabaikan kedaulatan Ukraina. Klingbeil menegaskan, perundingan boleh dilakukan, tetapi tidak boleh mengorbankan Kyiv atau menghilangkan peran Presiden Zelensky. “Pembicaraan itu tidak boleh dilakukan tanpa melibatkan rakyat Ukraina,” tegasnya.

Sementara itu, Inggris menyerukan penguatan sanksi terhadap armada bayangan Rusia—jaringan kapal tanker yang diduga memutarbelitkan sanksi minyak dengan menggunakan struktur kepemilikan dan asuransi yang sulit dilacak. Menteri Keuangan John Healey menekankan, tekanan ekonomi harus tetap dipertahankan untuk melemahkan kemampuan Moskow membiayai perang. Langkah ini bertolak belakang dengan sinyal pelonggaran dari Washington, memperjelas perpecahan strategis di antara sekutu Barat.

Previous articlePSIM Yogyakarta Bertekad Hentikan Rekor Buruk Lawan PSM Makassar
Next articleMobilisasi Pelajar ke Jakarta Diungkap Lewat Rekonstruksi di Bekasi