Sumbawanews.com,- Tiga ilmuwan—Karl Deisseroth dari Amerika Serikat, serta Peter Hegemann dan Georg Nagel dari Jerman—dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2026 atas penemuan metode optogenetika, teknik revolusioner yang memungkinkan ilmuwan memantau dan mengendalikan aktivitas sel saraf dalam otak yang masih hidup. Penghargaan resmi diumumkan oleh Majelis Nobel di Karolinska Institute, Stockholm, pada Senin, 5 Oktober 2026, dan ketiganya akan membagi hadiah uang senilai 12 juta krona Swedia. Optogenetika diakui sebagai terobosan kunci dalam memahami bagaimana neuron membentuk ingatan, perasaan, dan perilaku.
Karl Deisseroth, lahir pada 1971, adalah ahli saraf dan psikiatri yang memainkan peran sentral dalam mengembangkan optogenetika modern. Ia menempuh pendidikan di Harvard University dan meraih gelar doktor serta gelar kedokteran dari Stanford University, tempat ia kini menjabat sebagai D.H. Chen Professor of Bioengineering and of Psychiatry and Behavioral Sciences sekaligus peneliti di Howard Hughes Medical Institute.
Peter Hegemann, ahli biofisika asal Muenster, Jerman, dikenal karena penemuannya terhadap protein sensitif cahaya yang menjadi dasar teknik optogenetika. Ia meraih gelar doktor di bidang biokimia dari Ludwig Maximilian University pada 1994 dan kini menjadi profesor di Humboldt University, Berlin, sekaligus anggota akademi ilmu pengetahuan ternama seperti Leopoldina dan European Molecular Biology Organisation.
Georg Nagel, lahir pada 1953, juga seorang biofisikawan Jerman yang mempelajari biologi dan biofisika di University of Konstanz. Ia meraih gelar doktor dari University of Frankfurt pada 1988 dan saat ini menjabat sebagai profesor di University of Würzburg. Kontribusinya bersama Hegemann dalam mengidentifikasi channelrhodopsin menjadi fondasi utama pengembangan optogenetika.
Penghargaan ini merupakan Nobel Fisiologi atau Kedokteran ke-117 yang diberikan sejak pertama kali dianugerahkan pada 1901. Metode optogenetika kini menjadi alat utama dalam penelitian neurosains global, membuka jalan bagi pemahaman lebih dalam terhadap gangguan otak seperti depresi, epilepsi, dan Parkinson.














