Sumbawanews.com,- Siti Hasmah, istri mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan salah satu dokter perempuan Melayu pertama di Malaya, meninggal dunia pada usia 100 tahun. Ia wafat pada pukul 09.25 waktu setempat di Institut Jantung Negara, Malaysia, pada 28 September 2026. Selama tujuh dekade, ia menjadi pendamping setia Mahathir sejak mereka bertemu saat sama-sama belajar di King Edward VII College of Medicine, Singapura, pada 1947, dan menikah pada Agustus 1956.
Lulus dari universitas pada 1955, Siti Hasmah menjadi salah satu perempuan Melayu pertama yang menjadi dokter di wilayah yang kini dikenal sebagai Malaysia. Ia kemudian menjadi perempuan pertama yang diangkat sebagai Pejabat Kesehatan Ibu dan Anak tingkat negara bagian di Kedah, serta aktif memperbaiki layanan persalinan di daerah pedesaan. Dalam wawancara dengan UNICEF pada 2021, ia mengenang tantangan besar dalam membujuk masyarakat desa yang enggan datang ke rumah sakit karena keterbatasan transportasi, biaya, dan kepercayaan bahwa pergi ke rumah sakit berarti menghadapi kematian.
Selain menangani pasien, ia memimpin berbagai organisasi sosial, termasuk Persatuan Pandu Puteri Malaysia, Bakti—organisasi istri menteri—dan Kedah Family Planning Association. Ia juga aktif menyuarakan kesehatan ibu, pemberantasan buta huruf, pencegahan penyalahgunaan narkoba, dan kesehatan mental. Pada 2019, setelah menjalani operasi pengangkatan benjolan payudara, ia mengajak perempuan untuk rutin memeriksakan kesehatan. Di tengah pandemi, ia kembali menekankan pentingnya vaksinasi dan kepercayaan terhadap sistem kesehatan.
Pasangan ini memiliki empat anak kandung—Marina, Mirzan, Mokhzani, dan Mukhriz—serta tiga anak angkat: Melinda, Mazhar, dan Maizura. Mereka memiliki 18 cucu dan empat cicit. Selama dua periode kepemimpinan Mahathir sebagai perdana menteri—1981–2003 dan 2018–2020—Siti Hasmah tetap konsisten dalam advokasi kesehatan dan pemberdayaan perempuan, tanpa pernah meninggalkan panggilan sebagai dokter dan ibu.















