Home Berita Internasional Satelit Rusia Diduga Beri Intelijen untuk Serangan ke Arab Saudi

Satelit Rusia Diduga Beri Intelijen untuk Serangan ke Arab Saudi

Sumbawanews.com,- Satelit mata-mata Rusia diduga memberikan dukungan intelijen kepada Iran dan sekutunya, termasuk kelompok Houthi di Yaman, dalam serangan terhadap fasilitas minyak dan pangkalan militer Arab Saudi pada periode Juli hingga Oktober 2026. Analisis perusahaan intelijen geospasial AURORAH menemukan pola konsisten di mana satelit Rusia, khususnya seri Cosmos 2600, mengorbit di atas target strategis—seperti Jalur Pipa Timur-Barat dan Pangkalan Udara King Fahd di Taif—beberapa hari sebelum dan sesudah serangan. Serangan tersebut berhasil merusak stasiun pompa minyak, jet tempur Italia di hanggar, serta pusat komando dan rekrutmen di Yaman. Pejabat Saudi mengonfirmasi bahwa intelijen dari Rusia dan China dimanfaatkan oleh Houthi dan penasihat Iran di lapangan untuk menentukan sasaran, meski Moskow belum memberikan tanggapan resmi.

Perusahaan AURORAH, yang menganalisis 40 serangan drone dan rudal, menyatakan ada kecocokan 100 persen antara aktivitas satelit Rusia dan waktu serangan. Peningkatan 50 persen jumlah satelit yang mengorbit di atas target dalam 72 jam sebelum dan sesudah serangan menunjukkan operasi pengintaian terkoordinasi. Dalam serangan terhadap pesawat tempur Italia di Taif, keakuratan target yang tidak biasa mengindikasikan adanya informasi intelijen yang sangat spesifik, di luar kemampuan Houthi sendiri. Selain itu, rudal dan drone yang digunakan mengandung komponen buatan Rusia dan China, menurut sumber intelijen.

Pola serupa juga terdeteksi dalam serangan Iran terhadap pangkalan AS di Timur Tengah dan pusat operasi CIA di Riyadh. Pemimpin Houthi mengakui bahwa penasihat Iran di Yaman menggunakan data satelit Rusia untuk menyusun daftar target dan memberikan arahan operasional. Meski tidak ada bukti langsung transfer informasi, para ahli menilai pola orbit dan manuver satelit tersebut merupakan indikator kuat dukungan intelijen. Tidak ada badan internasional yang berwenang menghentikan aktivitas semacam ini, menurut analis orbit Leolabs. Serangan-serangan ini turut berkontribusi terhadap volatilitas harga energi global.

Previous articleMadura United Tancap Gas Hadapi PSM Makassar Usai Kalah dari Persebaya
Next articleInstagram Uji Coba Video Panjang Hingga 90 Menit untuk Podcaster