Sumbawanews.com,- Ribuan warga Kolombia turun ke jalan pada Rabu, mengecam keputusan pemerintah membuka kedutaan di Yerusalem dan mempererat hubungan diplomatik dengan Israel. Aksi protes terjadi di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Bogota, di mana mahasiswa, aktivis, dan demonstran mengibarkan bendera Palestina serta membakar bendera Amerika Serikat. Mereka menolak kebijakan Presiden Abelardo de la Espriella yang membalikkan keputusan pemerintahan sebelumnya dan menyelaraskan kebijakan luar negeri Kolombia dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Para pengunjuk rasa juga meneriakkan slogan seperti “Tolak intervensi Amerika” dan “Abelardo mundur”.
Pembukaan kedutaan Kolombia di Yerusalem berlangsung bersamaan dengan aksi protes, menandai pengembalian hubungan diplomatik yang sempat diputus oleh mantan Presiden Gustavo Petro pada 2024 sebagai bentuk protes terhadap perang Israel di Gaza. Pemerintahan de la Espriella juga telah menghidupkan kembali perjanjian perdagangan bebas dengan Israel yang sebelumnya ditangguhkan. Menteri Luar Negeri Kolombia Omar Bula, yang hadir di upacara peresmian, menyatakan Israel sebagai mitra strategis dan menegaskan bahwa hubungan bilateral akan diperkuat. Namun, pejabat Palestina mengecam langkah tersebut, memperingatkan bahwa keputusan Kolombia melemahkan hukum internasional dan merusak posisi diplomatik negara itu dalam konflik Israel-Palestina.















