Sumbawanews.com,- Iran mengembangkan sistem teknologi untuk memutuskan koneksi jaringan satelit Starlink, yang dianggap sebagai alat perang oleh pihak musuh. Sekretaris Dewan Tinggi Ruang Siber Nasional Iran, Mohammad Amin Aghamiri, menyatakan Starlink digunakan untuk komando, kendali, spionase, dan pengumpulan informasi oleh pihak yang berlawanan. Pemerintah Teheran telah melarang penggunaan dan pendistribusian terminal Starlink sejak Februari 2026, menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Pelanggaran terhadap larangan ini dapat dikenai sanksi denda atau hukuman penjara.
Larangan ini menjadi bagian dari upaya Iran mengendalikan akses internet nasional selama konflik berkepanjangan dengan AS dan Israel. Dalam tahun 2026, pemerintah telah memutuskan akses internet global dua kali: pertama selama tiga minggu pada Januari menyusul gelombang protes, dan kedua selama 88 hari sejak awal perang yang masih berlangsung hingga kini. Teknologi pemblokir Starlink pernah digunakan saat unjuk rasa Januari lalu, dan kini sedang dipersiapkan untuk dibagikan kepada negara-negara sekutu. Aghamiri tidak merinci jenis teknologi yang digunakan, tetapi menegaskan bahwa sistem tersebut sudah siap operasional.















