Sumbawanews.com,- JAKARTA — Harga solar di Amerika Serikat masih mendekati rekor tertinggi meski pemerintahan Presiden Donald Trump telah menandatangani kesepakatan dengan Rusia untuk meningkatkan pasokan bahan bakar tersebut. Pada Senin (26/10/2026), harga rata-rata solar nasional mencapai 6,352 dolar AS per galon, naik selama dua pekan berturut-turut dan hampir menyentuh level 6,529 dolar AS per galon yang tercatat pada 21 September 2026. Kenaikan ini terjadi meski Washington telah melonggarkan sanksi terhadap ekspor solar Rusia dan mengupayakan stabilitas pasokan energi menjelang pemilu paruh waktu pada 3 November.
Serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Novokuibyshevsk di wilayah Samara, Rusia, pada Jumat (30/10/2026), mengakhiri jeda serangan selama dua pekan yang sempat diberlakukan atas tekanan AS. Sebelumnya, militer Ukraina menghentikan sementara serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia setelah permintaan langsung dari utusan Trump, Jared Kushner, dalam pertemuan di Oslo pada 20 Oktober. Kushner dan Steve Witkoff berargumen bahwa penghentian serangan akan mendukung upaya diplomasi dengan Moskow. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan tidak ada perintah resmi yang melarang serangan terhadap kilang minyak jika dianggap strategis.
Rusia justru berencana meningkatkan ekspor solar menjadi 2,15 juta ton pada November, menandai pemulihan produksi setelah serangan sebelumnya. Meski demikian, pembatasan ekspor masih dipertahankan. Ketegangan geopolitik ini menciptakan paradoks: kesepakatan energi antara Washington dan Moskow berjalan di tengah konflik militer yang terus mengganggu pasokan, sementara permintaan energi AS tetap tinggi menjelang pemilu. Efektivitas kebijakan Trump dalam menekan harga solar belum terbukti, dan pasar masih dipengaruhi oleh dinamika perang di Ukraina serta ketidakpastian keamanan infrastruktur energi global.















