Sumbawanews.com,- Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump menyatakan perekonomian Iran berada di ambang kehancuran akibat sanksi ketat dan blokade laut, namun Menteri Keuangan Scott Bessent mengakui tidak memiliki jawaban pasti bagaimana konflik yang telah berlangsung delapan bulan ini akan berakhir. Pengakuan itu disampaikan Bessent dalam wawancara dengan Fox News pada 11 Oktober 2026, di mana ia mengklaim Teheran kesulitan membayar gaji tentaranya, tetapi juga mengakui ketidakpastian mengenai dampak politik dari tekanan ekonomi tersebut.
Bessent menyebut tekanan ekonomi telah memutus aliran minyak mentah Iran, dengan mengklaim tidak ada pengapalan minyak sama sekali pada September 2026. Ia membandingkan situasi ini dengan runtuhnya Tembok Berlin, menyebut kemungkinan munculnya pemberontakan rakyat atau perpecahan di tubuh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun, data dari perusahaan intelijen energi Vortexa yang dirilis 13 Oktober 2026 menunjukkan ekspor minyak Iran memang turun ke nol pada pekan kedua September, tetapi masih tercatat sekitar 230 ribu barel per hari pada awal bulan tersebut, menunjukkan penurunan bertahap, bukan tiba-tiba seperti dinyatakan.
Washington telah meluncurkan Operation Economic Outcast pada 24 Agustus 2026 untuk mempersempit akses Iran terhadap sistem keuangan dan perdagangan global, dengan sanksi menyasar jaringan perbankan, kapal tanker, dan industri militer. Meski klaim AS tentang kegagalan Iran membayar gaji tentara belum diverifikasi secara independen, Bessent tetap bersikeras bahwa tekanan ekonomi adalah instrumen utama untuk memaksa Teheran menghentikan program nuklir dan kebijakan militer agresifnya. Ia menegaskan, “Saya tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Anda tidak pernah benar-benar tahu bagaimana sebuah perang akan berakhir.”















