Sumbawanews.com,- Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tengah melakukan penelusuran terhadap dua alumni yang diduga terlibat dalam skandal pemalsuan penelitian ilmiah yang viral di media sosial. Kasus ini mencuat setelah dua dosen Indonesia, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, mengamati kejanggalan saat mengikuti konferensi internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.
Mereka mendapati sejumlah presentasi yang tampak tidak masuk akal secara ilmiah, dengan data dan metodologi yang janggal—bahkan diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Yang lebih mencurigakan, para pelaku mengatasnamakan lembaga fiktif seperti AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation, serta menyebutkan keterkaitan dengan UNY sebagai institusi pendukung. Penelusuran warganet kemudian mengarah pada dua nama: Prihantini dan Rifaldy Fajar, lulusan Program Studi Matematika UNY angkatan 2017 dan 2018.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto, mengatakan pihak kampus belum bisa menyimpulkan apapun sebelum melakukan konfirmasi langsung. “Kami tidak bisa langsung menuduh hanya karena viral di medsos. Kami harus tabayyun, verifikasi fakta, dan menghubungi yang bersangkutan,” ujarnya, Selasa (26/5).
Pihak UNY telah memeriksa basis data alumni dan menemukan lebih dari satu orang bernama Prihantini. Satu di antaranya telah dihubungi, namun belum dapat dikonfirmasi sebagai sosok yang dimaksud. Sementara itu, Rifaldy Fajar diketahui telah memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya, meski hingga kini belum ada respons resmi dari UNY kepada pihaknya.
Nur menekankan bahwa kedua nama tersebut kini berstatus sebagai peneliti independen, bukan pegawai aktif UNY. Mereka lulus hampir sepuluh tahun lalu, sehingga jejak akademik mereka tidak lagi terintegrasi langsung dengan sistem kampus. “Kami belum menerima laporan resmi dari pihak luar maupun internal. Tapi karena ini menyangkut reputasi institusi, kami wajib menelusuri,” katanya.
Dugaan kuat bahwa pemalsuan riset dilakukan demi mendapatkan dana hibah atau grant internasional juga menjadi perhatian serius. Konferensi ilmiah di Denmark bukan satu-satunya yang disebutkan; dugaan serupa juga muncul terkait keikutsertaan dalam acara serupa di beberapa negara lain.
UNY menegaskan bahwa integritas akademik adalah nilai utama yang tak bisa ditawar. Meski belum ada bukti kuat yang menghubungkan kampus secara langsung dengan tindakan tersebut, pihaknya berkomitmen untuk mengusut tuntas, termasuk mengevaluasi sistem pelacakan alumni dan mekanisme verifikasi identitas yang digunakan dalam kolaborasi internasional.
Kasus ini menjadi sorotan nasional bukan hanya karena potensi kecurangan ilmiah, tetapi juga karena menggoyahkan kepercayaan publik terhadap kredibilitas peneliti Indonesia di kancah global. UNY berjanji akan mengumumkan hasil penyelidikan segera setelah semua data terverifikasi.















