Sumbawanews.com,- Kurang dari enam pekan menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan tak terduga dari dalam partainya sendiri. Sejumlah anggota Partai Republik di Kongres mulai mempertanyakan fokus kampanye presiden yang dinilai terlalu terpaku pada isu luar negeri, seperti perang Iran dan kontroversi media, sementara biaya hidup dan harga energi yang melonjak menjadi kekhawatiran utama pemilih. Anggota DPR Dusty Johnson dari South Dakota secara terbuka memperingatkan bahwa peluang Partai Republik akan memburuk jika perdebatan tetap terjebak dalam isu-isu yang tidak relevan dengan kebutuhan sehari-hari rakyat, seperti perselisihan soal akses jurnalis ke Gedung Putih atau lokasi simbolis seperti Lake Ontario dan Reflecting Pool. Ia menekankan perlunya disiplin pesan yang mengarah pada keterjangkauan biaya hidup, keamanan perbatasan, dan solusi konkret untuk ekonomi rumah tangga. Kekhawatiran serupa muncul dari senator Republik seperti Chuck Grassley dan Dan Sullivan, serta anggota DPR Ashley Hinson dan Mariannette Miller-Meeks, yang mendesak pemerintah membatasi ekspor diesel guna menekan beban biaya bahan bakar bagi petani dan pengemudi truk. Meski Trump masih mempertahankan pengaruh kuat di kalangan basis Republik, tanda-tanda ketidaksepakatan strategis semakin nyata di tengah ancaman penurunan popularitas menjelang hari pemungutan suara.
Home Berita Internasional Trump Terjepit 40 Hari Jelang Pemilu, Gelombang Kritik dari Dalam Partainya















