Home Berita Internasional Trump Longgarkan Sanksi Rusia, Zelensky Khawatir Perang Makin Melebar

Trump Longgarkan Sanksi Rusia, Zelensky Khawatir Perang Makin Melebar

Sumbawanews.com,- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan kesediaan melanjutkan perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat, meski keputusan Presiden Donald Trump menangguhkan sejumlah sanksi ekonomi terhadap Rusia. Zelensky menegaskan Ukraina terbuka untuk berdialog dalam format apa pun, tetapi menolak proses perdamaian yang justru memberi keuntungan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Keputusan Trump itu tertuang dalam perintah eksekutif yang ditandatangani pada 16 Oktober 2026, mengacu pada Undang-Undang Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026. Dengan alasan kepentingan nasional AS, Trump mengecualikan penerapan sejumlah sanksi baru dan tarif terhadap Rusia, termasuk pembatasan terhadap impor energi dan pelaku yang membantu penghindaran sanksi. Meski demikian, sanksi-sanksi sebelumnya tetap berlaku. Moskow menyambut langkah ini sebagai “momen bersejarah,” dengan utusan khusus Putin, Kirill Dmitriev, menyebutnya sebagai pintu terbuka bagi kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

Zelensky, dalam unggahan di platform X, mengecam kebijakan itu sebagai tidak adil. Ia meminta AS justru meningkatkan tekanan terhadap Putin, bukan menguranginya. “Jika tidak, hal itu sungguh tidak adil,” tegasnya. Ia juga menyebut sinyal positif dari pihak AS mengenai kemungkinan pertemuan tingkat tinggi pekan depan, namun menekankan bahwa perdamaian harus benar-benar mengakhiri perang, bukan memperkuat posisi Rusia.

Kekhawatiran Zelensky diperparah oleh serangan besar-besaran Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina. Menurut laporan Financial Times, lebih dari 15 fasilitas pembangkit dan transmisi listrik menjadi target serangan yang melibatkan lebih dari 320 drone serta rudal jelajah dan balistik. Zelensky mengaitkan serangan ini dengan pelonggaran tekanan AS terhadap Moskow, menyatakan bahwa penghentian sanksi hanya akan mendorong Putin untuk terus menyerang.

Perselisihan ini juga meluas ke bidang militer. AS diduga menekan Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia, dengan mengaitkannya pada kemungkinan pembatasan akses Kyiv terhadap intelijen, teknologi komunikasi militer, dan pasokan senjata. Trump membantah bahwa AS menghentikan pembagian intelijen, tetapi Zelensky menyampaikan kekhawatiran serius atas kemungkinan berkurangnya dukungan teknis yang krusial bagi pertahanan Ukraina.

Sementara Moskow melihat pelonggaran sanksi sebagai langkah menuju stabilitas global, Kyiv memandangnya sebagai pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip keadilan dan keamanan yang selama ini menjadi fondasi dukungan Barat. Dengan musim dingin yang semakin dekat, ancaman pemadaman listrik massal di Ukraina kini menjadi simbol nyata dari konsekuensi geopolitik keputusan Washington.

Previous articlePersija Tumbang 2-3 dari Persita, Kericuhan Suporter Ganggu Laga
Next articleWarga Cilincing Desak Pemerintah Selidiki Pencairan Dana Rp27,6 Miliar yang Diduga Tak Tepat Sasaran