Home Berita Internasional Trump Dukung Netanyahu, Vance Hindari Campur Tangan Pemilu Israel

Trump Dukung Netanyahu, Vance Hindari Campur Tangan Pemilu Israel

Sumbawanews.com,- Wakil Presiden AS JD Vance menolak ikut campur dalam pemilu Israel, berbeda dengan Presiden Donald Trump yang secara terbuka mendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemungutan suara pada 27 Oktober 2026. Vance menegaskan fokusnya hanya pada pemilu sela AS pada 3 November 2026, dan menolak memberikan dukungan maupun penolakan terhadap Netanyahu. “Saya memberikan dukungan kepada kandidat-kandidat Amerika, dan itulah yang menjadi fokus saya,” ujarnya dalam wawancara di pesawat Air Force Two, Senin (19/10/2026).

Trump, sehari sebelumnya, melalui unggahan di Truth Social, memuji Netanyahu sebagai pemimpin kuat dan cemerlang yang dibutuhkan Israel dalam menghadapi ancaman Iran. Ia memperingatkan bahwa jika Israel dipimpin tokoh selain Netanyahu, AS mungkin harus menanggung sendiri tanggung jawab keamanan di Timur Tengah. “Jika Israel memiliki pemimpin yang salah, yakni siapa pun selain Bibi, Amerika harus melakukan pekerjaan ini sendiri, dan saya tidak ingin melakukannya,” tulis Trump. Netanyahu merespons dengan menyebut Trump sebagai sahabat Israel dan menekankan pentingnya kerja sama bilateral, terutama dalam mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Vance, yang sebelumnya pernah mendukung Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban pada April 2026, memilih sikap netral dalam pemilu Israel. Ia menekankan bahwa meskipun dukungan Trump memiliki pengaruh besar, ia tidak akan terlibat dalam urusan politik domestik negara lain. Ia tidak menolak hubungan strategis AS-Israel, namun menegaskan batas perannya sebagai wakil presiden.

Pemilu legislatif Israel pada 27 Oktober 2026 menjadi ujian berat bagi Netanyahu, yang berjuang mempertahankan kekuasaannya di tengah kritik atas penanganan konflik Gaza, hubungan dengan Iran, dan kondisi sosial ekonomi dalam negeri. Berdasarkan agregasi survei dari tujuh lembaga antara 4–18 Oktober 2026, blok pendukung Netanyahu diproyeksikan memperoleh 54 dari 120 kursi di Knesset—belum mencapai mayoritas mutlak yang membutuhkan 61 kursi. Partai Likud diperkirakan turun dari 32 menjadi 23 kursi, sementara partai sayap kanan jauh Otzma Yehudit, pimpinan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, diprediksi meraih delapan kursi dengan peningkatan dukungan dari pemilih muda.

Persaingan politik semakin kompleks dengan munculnya koalisi oposisi non-Arab yang dipimpin Gadi Eisenkot dan kelompok-kelompok lain dari kanan, ultra-Ortodoks, hingga partai-partai Arab Israel. Hasil akhir pemilu akan menentukan apakah Netanyahu mampu membentuk koalisi baru atau kekuasaannya berakhir setelah lebih dari satu dekade.

Previous articleAn Se Young Makin Abadi, Susy Susanti: Sistem Poin Baru Justru Perpanjang Dominasinya
Next articleMassa Desak Karhutla Ditetapkan Bencana Nasional di Tugu Tani