Sumbawanews.com,- Santri masa kini tidak lagi hanya dikenal lewat sarung, peci, dan kitab kuning, tetapi juga melalui keterampilan praktis, kemandirian, dan penguasaan ilmu sains serta teknologi yang dibutuhkan di luar pesantren. Di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, dan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, para santri belajar logika, filsafat, falak, bahasa asing, kepemimpinan, dan komunikasi publik seiring dengan pendalaman agama. Kementerian Agama mencatat 42.391 pesantren dan 4,63 juta santri terverifikasi pada 2026, menunjukkan besarnya peran lembaga ini dalam pendidikan nasional. Hafiz, santri dari Pesantren Buntet, menegaskan bahwa ilmu agama tetap menjadi fondasi, tetapi tidak boleh menghalangi penguasaan ilmu lain seperti manthiq, falak, dan kewirausahaan. Fakhiroh, santriwati Gontor Putri, menggambarkan kehidupan di pesantren sebagai proses membentuk kemandirian—mengatur waktu, mengurus kebutuhan pribadi, dan belajar kerja sama dalam organisasi. Keduanya menekankan bahwa santri harus terbuka terhadap perkembangan zaman, mampu menyaring informasi, dan siap menghadapi tantangan pendidikan lanjutan, dunia kerja, serta perubahan sosial tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.















