Sumbawanews.com,- Denise Cosco, perempuan yang bersaksi melawan ayahnya dan kekasihnya dalam pembunuhan ibunya, Lea Garofalo, ditemukan tewas jatuh dari apartemennya di Roma pada 10 September 2026, dalam usia 35 tahun. Kematian Denise memicu penyelidikan apakah ia menjadi korban tekanan dari jaringan mafia ‘Ndrangheta, atau terjebak dalam beban psikologis akibat hidup sebagai saksi negara. Ia tidak meninggalkan catatan bunuh diri, dan ponselnya telah disita untuk mencari jejak ancaman. Suaminya, yang berada di rumah saat kejadian, dimintai keterangan tetapi belum ditetapkan sebagai tersangka.
Denise menjadi saksi kunci dalam kasus pembunuhan Lea Garofalo pada 2009, ibunya yang gugur setelah memberikan kesaksian terhadap suaminya, Carlo Cosco, dan mantan kekasihnya, Carmine Venturino, atas penculikan, penyiksaan, mutilasi, dan pembakaran tubuh Lea. Tubuh Lea ditemukan tiga tahun kemudian setelah Venturino mengungkap lokasi penyembunyiannya; di antara sisa tulang yang hangus, Denise mengenali kalung milik ibunya sebagai bukti keberanian terakhir sang ibu. Lea, yang berjuang melindungi Denise dari keluarga mafia, menjadi simbol keberanian perempuan yang memilih keadilan daripada kesetiaan pada darah.
Setelah kesaksiannya, Denise menjalani enam tahun hidup di bawah program perlindungan saksi negara Italia dengan identitas palsu. Namun, ia dan ibunya sama-sama meninggalkan program itu karena kekecewaan terhadap ketidakmampuan negara memberikan jaminan keamanan dan dukungan finansial yang memadai. Hukum Italia membatasi waktu 180 hari untuk menilai kredibilitas saksi, dan perlindungan dievaluasi setiap empat tahun—proses yang sering gagal menjamin kehidupan normal bagi mereka yang melawan kejahatan terorganisasi.
Jaksa anti-mafia Alessandra Cerreti mengakui sistem perlindungan saksi di Italia lemah, terbatas anggaran, dan rentan gagal saat tidak ada saksi pendukung lain. Pengacara Denise, Enza Rando, menegaskan bahwa mafia tidak hanya membunuh dengan senjata, tapi juga dengan menciptakan monster dalam hidup para saksi yang ditinggalkan. Kematian Denise mengguncang kalangan penyidik, karena dikhawatirkan akan menakutkan saksi lain untuk bersuara. Giuseppe Carini, saksi lain yang hidup dengan identitas palsu, menulis surat terbuka: “Kami tidak menginginkan batu nisan. Kami ingin hak untuk hidup normal.”
Bibinya, Marisa Garofalo, mengunggah foto Denise memegang kaus bertuliskan nama Lea—foto pertama yang menunjukkan wajah Denise secara terbuka. “Sekarang aku bisa menunjukkan matamu yang indah,” tulis Marisa. “Kamu tidak perlu bersembunyi lagi.”















