Home Serba Serbi Tekno Pusat Data AI di Dasar Laut: Solusi Energi atau Ancaman Ekosistem?

Pusat Data AI di Dasar Laut: Solusi Energi atau Ancaman Ekosistem?

Sumbawanews.com,- Raksasa teknologi global seperti Google, Microsoft, OpenAI, dan Anthropic tengah mengeksplorasi pemasangan pusat data kecerdasan buatan di dasar laut sebagai solusi atas konsumsi energi besar dan masalah pendinginan. Inisiatif ini muncul menyusul lonjakan kebutuhan daya listrik akibat pengolahan data AI yang terus meningkat, di mana server-server tersebut menghasilkan panas luar biasa dan memakan hampir seluruh energi untuk sistem pendingin. Microsoft pernah menguji gagasan ini melalui Project Natick, dengan mengoperasikan pusat data tertutup di dasar laut lepas pantai Skotlandia sejak 2018, namun proyek itu dihentikan karena biaya operasional tinggi dan minimnya permintaan pelanggan.

Tantangan utama pusat data bawah laut terletak pada pemeliharaan dan perbaikan perangkat keras. Jika terjadi kerusakan, teknisi harus mengangkat seluruh unit ke permukaan atau mengandalkan perbaikan jarak jauh, yang jauh lebih rumit dibandingkan di fasilitas darat. Selain itu, penggantian chip secara berkala di fasilitas tertutup dianggap lebih hemat jika dilakukan dengan mengganti seluruh unit, bukan komponen per satu. Di sisi lingkungan, meskipun air laut efektif menyerap panas, peningkatan suhu lokal berpotensi mengganggu kadar oksigen dan kehidupan biota laut—terutama jika puluhan pusat data ditempatkan dalam satu wilayah. Korosi akibat air asin dan penumpukan kerang pada radiator pembuang panas juga menjadi hambatan teknis yang belum sepenuhnya teratasi.

Melihat kompleksitas di laut, sejumlah perusahaan kini beralih ke luar angkasa. Google sedang mengembangkan Project Suncatcher untuk meluncurkan satelit pusat data di orbit Bumi rendah tahun ini, sementara Starcloud bekerja sama dengan Firefly menguji teknologi serupa di orbit Bulan. SpaceX juga merancang inisiatif Starmind untuk membangun jaringan AI orbital pada 2027, memanfaatkan infrastruktur roket dan satelit Starlink. Namun, tantangan besar tetap ada: biaya peluncuran peralatan ke luar angkasa sangat tinggi, pembuangan panas di ruang hampa udara sulit dilakukan, radiasi kosmik berisiko merusak chip AI, dan perbaikan perangkat di luar angkasa hampir mustahil dilakukan secara langsung.

Previous articleHubner Selamatkan Poin, Diks dan James Gigit Jari di Eropa
Next articleJanice Tjen Gagal Lanjut di Japan Open 2026, Kalah Dua Set Langsung dari Ashlyn Krueger