Sumbawanews.com,- Ketua Umum PSSI Erick Thohir memberikan ultimatum tegas kepada klub dan operator liga sepak bola Indonesia, menyusul insiden penyerangan bus Elite Pro Academy Persib Bandung dan serangan terhadap suporter Persija Jakarta, The Jakmania, di Cikampek. Dalam pernyataan resminya, Erick menegaskan bahwa PSSI tidak akan tinggal diam terhadap kekerasan yang mencoreng citra sepak bola nasional, dan membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi pengurangan poin bagi klub yang gagal mengendalikan suporternya. Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan membolehkan kehadiran suporter tim tamu di kompetisi domestik berisiko dicabut jika keamanan tidak dijamin.
Erick menekankan bahwa tanggung jawab keamanan pertandingan bukan hanya menjadi beban aparat kepolisian, tetapi juga klub dan operator liga. “PSSI meminta liga dan klub bertanggung jawab atas kegiatan pertandingan. Tanggung jawab,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa kesepakatan PSSI dengan FIFA menjamin setiap suporter pulang ke rumah dengan selamat — sebuah prinsip yang kini terancam oleh serangkaian aksi kriminal yang melampaui batas rivalitas olahraga. Insiden penyerangan bus EPA Persib, yang melibatkan perusakan, pembakaran, pengambilan barang, dan penggunaan benda tumpul, dinilai Erick sebagai tindakan kriminal, bukan sekadar kerusuhan suporter.
Ia mempertanyakan logika di balik pembawaan senjata tajam atau alat pemukul saat menonton pertandingan. “Mana ada menonton bola bawa alat pukulan. Nah, ini konteksnya kan artinya sudah ada pemikiran,” ujarnya. Erick menegaskan bahwa tindakan balasan dari kelompok mana pun tidak dapat dibenarkan, dan semua pelaku kekerasan harus ditindak tegas tanpa pandang bulu. Untuk mencegah kejadian berulang, ia memberi waktu satu minggu kepada klub dan operator liga untuk menyepakati mekanisme pengamanan suporter yang komprehensif. Jika tidak ada kesepakatan, PSSI siap mengambil alih keputusan — termasuk menghentikan kembali kehadiran suporter tim tamu.
Selain itu, sanksi pengurangan poin tetap menjadi opsi utama bagi klub yang dianggap tidak mampu mengendalikan perilaku pendukungnya. “Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang,” kata Erick. Ia menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada keselamatan, bukan pada rivalitas atau emosi sementara. Dengan langkah ini, PSSI berupaya membangun kembali kepercayaan publik dan memenuhi komitmen internasionalnya terhadap sepak bola yang aman dan terhormat.















