Sumbawanews.com,- Pada Rabu, 26 Agustus 2026, seluruh jajaran pemain dan ofisial PSIM Yogyakarta melaksanakan ziarah ke kompleks makam raja-raja Mataram di Kotagede dan Imogiri, sebagai bagian dari tradisi pramusim menjelang bergulirnya kompetisi Super League 2026-2027. Kegiatan yang telah menjadi rutinitas tahunan itu dilakukan dengan penuh khidmat, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan budaya luhur Yogyakarta yang menjadi akar identitas klub.
Manajemen PSIM menegaskan, ziarah ini bukan sekadar simbolis, melainkan upaya strategis untuk memperdalam pemahaman para pemain tentang nilai-nilai historis yang melekat pada lambang Laskar Mataram. Dengan mengunjungi situs-situs bersejarah tersebut, tim berharap para pemain dapat menyerap semangat kepemimpinan, kearifan lokal, dan tanggung jawab moral yang diwariskan para pendahulu.
Pemain muda Savio Sheva Maresca menyatakan, kegiatan ini mengingatkan seluruh anggota tim bahwa jersey yang mereka kenakan bukan hanya identitas olahraga, tapi juga amanah budaya. “Ziarah ini cara kami merawat ingatan terhadap sejarah panjang dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Berada di sini membuat kami sadar bahwa lambang di dada yang kami bela bukan sekadar identitas di atas lapangan, melainkan bagian dari warisan budaya yang memiliki tanggung jawab besar,” ujarnya, dilansir dari laman resmi I.League pada 28 Agustus 2026.
Senada, Khairul Fikri Maarif mengatakan bahwa setiap kunjungan ke tempat bersejarah selalu membuka perspektif baru dalam memahami akar klub. “Datang ke tempat bersejarah ini memberi saya pemahaman yang lebih dalam tentang akar dan identitas tim,” tambahnya.
Tradisi ini menjadi penguat solidaritas tim sekaligus alat edukasi budaya yang tak tergantikan, menjadikan PSIM Yogyakarta tidak hanya sebagai tim sepak bola, tapi juga penjaga memori kolektif masyarakat Yogyakarta.















