Sumbawanews.com,- Puluhan ribu pelajar di seluruh Prancis memblokade sekolah-sekolah dan menggelar demonstrasi besar-besaran pada Jumat, 2 Oktober 2026, menuntut pemerintah segera memperbaiki sistem pendidikan yang mereka anggap kolaps. Aksi massal ini meluas dari Paris hingga Lyon, dengan ribuan siswa menolak belajar di ruang kelas yang padat, gedung rusak, dan tanpa dukungan memadai. Mereka mengecam pemangkasan anggaran pendidikan yang berkelanjutan, gaji guru yang rendah, serta sistem pendaftaran perguruan tinggi yang rumit dan tidak transparan. Para pelajar juga mengungkapkan penderitaan akibat suhu ruangan yang mencapai 35–40 derajat Celsius saat gelombang panas melanda Mei hingga Juni lalu.
Para siswa, seperti Sophia (17) dari Lycee Voltaire, mengatakan mereka lebih memilih berdiri di depan gerbang sekolah daripada duduk di kelas yang tidak layak. Mereka membawa poster bertuliskan “Stop pemangkasan anggaran” dan menuntut pemerintah mendengar suara mereka. Di beberapa lokasi, guru-guru turut berdiri di samping pelajar sebagai bentuk solidaritas. Di luar SMA Arago di Paris, aksi blokade berlangsung hingga kegiatan belajar mengajar dibatalkan selama dua hari berturut-turut. Sementara itu, di Lycee Helene Boucher, pelajar bernyanyi sambil membawa spanduk dukungan untuk warga Gaza dan menolak kandidat sayap kanan jauh Marine Le Pen.
Keluhan lain mencakup plafon yang runtuh saat pelajaran berlangsung, keberadaan kecoak, atap bocor, dan kekurangan staf administrasi. Camille (18), yang bercita-cita menjadi guru, menyoroti hasil buruk Prancis dalam pemeringkatan pendidikan internasional, meski jam sekolahnya termasuk terpanjang di dunia. “Pemerintah salah fokus. Masalahnya bukan jumlah jam, tapi kualitas,” katanya. Sofiane (19), mahasiswa sastra, menambahkan bahwa pelajar juga khawatir program makan seharga satu euro dan bantuan perumahan bagi siswa miskin akan dihapus.
Pemerintah Prancis mengakui bahwa keluhan pelajar memiliki dasar yang valid, tetapi mengecam aksi kekerasan yang terjadi dalam beberapa aksi, termasuk penembakan mortir kembang api dan bentrokan dengan polisi. Sementara itu, para pelajar menuduh aparat menggunakan kekuatan berlebihan, termasuk penembakan gas air mata untuk membubarkan unjuk rasa. Ribuan pelajar telah ditangkap, dan ratusan sekolah menengah tetap ditutup atau diblokade. Demonstrasi diperkirakan akan berlanjut hingga pekan depan, dengan para pelajar menegaskan: “Kami hanya ingin belajar dalam kondisi yang layak.”















