Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Inggris Andy Burnham secara tegas menolak rencana FIFA menjual saham Piala Dunia kepada investor, menyatakan bahwa kompetisi sepak bola terbesar di dunia bukanlah produk komersial yang bisa diperdagangkan. Kritik ini muncul menyusul pengumuman FIFA tentang peluncuran FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah badan baru yang bertujuan mengintegrasikan seluruh aspek komersial turnamen dan membuka pintu bagi partisipasi investor dalam kepemilikan aset turnamen. Burnham, yang dikenal sebagai penggemar setia Everton, menegaskan bahwa esensi sepak bola terletak pada para suporter yang setia mendukung tim mereka, hujan atau panas, bukan pada keuntungan finansial para pemodal. Pernyataannya menyentuh inti perdebatan global: bahwa Piala Dunia adalah warisan budaya olahraga, bukan aset investasi.
Kritik Burnham sejalan dengan kecaman keras dari UEFA, yang sebelumnya menyatakan bahwa sepak bola tidak boleh dijadikan komoditas pasar. Ia menekankan bahwa ketika FIFA mulai menjual sebagian dari Piala Dunia, mereka bukan sekadar mengubah model bisnis—tapi mengkhianati prinsip dasar olahraga yang berakar pada kecintaan masyarakat. “Sepakbola itu milik para suporter. Selalu begitu dan akan tetap begitu,” tegasnya, mengutip semangat yang menjadi fondasi identitas sepak bola global.
Rencana FIFA untuk menggabungkan penjualan hak komersial dan pengelolaan turnamen dalam satu entitas baru memicu gelombang protes dari berbagai pihak, termasuk federasi sepak bola Eropa dan tokoh politik. Meski FIFA berdalih bahwa pendanaan baru akan mendukung pengembangan sepak bola di tingkat global, para kritikus khawatir langkah ini akan menggerus otonomi dan keaslian turnamen yang selama ini dijunjung sebagai simbol persatuan dan semangat olahraga murni. Burnham menegaskan, tidak ada harga yang bisa menggantikan nilai emosional yang dimiliki jutaan orang terhadap Piala Dunia.















