Home Berita Internasional Perang di Timur Tengah Tekan Ekonomi AS, Dukungan terhadap Trump Jatuh ke...

Perang di Timur Tengah Tekan Ekonomi AS, Dukungan terhadap Trump Jatuh ke 31 Persen

Sumbawanews.com,- Lonjakan harga bahan bakar, inflasi yang melambung, dan melemahnya daya beli masyarakat Amerika Serikat memperdalam krisis kepercayaan terhadap Presiden Donald Trump. Tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya anjlok ke angka 31 persen, level terendah sepanjang masa kepresidenannya, menjelang pemilu sela 3 November 2026. Survei Reuters/Ipsos yang melibatkan 1.679 responden dewasa menunjukkan 68 persen warga tidak puas dengan penanganan ekonomi pemerintah, terutama akibat konflik militer AS-Israel melawan Iran yang telah berlangsung hampir delapan bulan.

Harga bensin reguler di AS mencapai 4,30 dolar AS per galon pada 19 Oktober 2026, naik dari 3,04 dolar AS di periode sama tahun lalu. Harga solar melonjak lebih tajam menjadi 6,32 dolar AS per galon, dari 3,63 dolar AS sebelumnya. Kenaikan ini memperberat biaya transportasi dan distribusi barang, sementara inflasi tahunan mencapai 3,7 persen pada September 2026—naik dari 3,4 persen di Agustus. Harga energi secara keseluruhan melonjak 20,4 persen secara tahunan, dengan bensin naik 34,2 persen dan minyak pemanas melonjak 74,2 persen.

Gangguan pasokan energi global dipicu oleh ketidakstabilan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sebelum perang meletus pada 28 Februari 2026, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi kawasan itu, atau sekitar seperlima konsumsi dunia. Kini, meski ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk—tidak termasuk Iran—telah pulih hingga 91 persen dari level sebelum perang, ekspor bahan bakar olahan seperti solar dan bahan bakar penerbangan baru mencapai 60 persen. Ekspor minyak mentah Iran tetap nihil sepanjang Oktober, akibat blokade AS yang masih berlaku.

Ketegangan keamanan di Selat Hormuz kembali memburuk pada 19 Oktober 2026, ketika sebuah kapal tanker mengalami ledakan akibat menabrak ranjau laut, menurut pernyataan Garda Revolusi Iran. Harga minyak mentah Brent masih bertahan di kisaran 108 dolar AS per barel, jauh di atas level pra-perang. Pasokan yang belum pulih sepenuhnya dan risiko keamanan yang terus menghantui membuat tekanan ekonomi bagi warga AS tetap tinggi.

Previous articleKadek Dwi Pecahkan Rekor Dunia, Bawa Emas Kedua untuk Indonesia di Asian Para Games 2026
Next articleKerusuhan Prancis Picu 2.300 Penangkapan dan Hampir 1.000 Polisi Terluka